Info Market CPO
🗓 Update: Rabu, 20 Mei 2026 |18:50 WIB |Volume: 0.5K • 2.6K • 0.5K • 0.5K • 0.2K DMI • FOB PALOPO • DMI • DMI • LOCO PARINDU
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
- 14500 (IMT) 12100 (IBP) 15500 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 2.6K · FOB PALOPO
- - - - - NO BIDDER
N4 N4 (N4)
Vol: 0.5K · DMI
- 14500 (IMT) 12100 (IBP) 15500 - WD
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
- 14500 (IMT) 12100 (IBP) 15500 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
- 11010 (MNA) - 15150 WD
Catatan Pasar
  • Tender PTPN didominasi status WD. Tender DMI mencatat CTR di level 15.500 dengan bidder IMT, IBP, dan PAA. Tender FOB PALOPO belum terdapat bidder. Tender LOCO PARINDU mencatat penawaran MNA di level 11.010 dengan CTR 15.150.
👥Sumber: Internal Market CPO
Model
Sains & Teknologi

Fosil Dinosaurus di Kanada Ungkap Penyakit Langka Mirip Kanker, Ilmuwan Terkejut!

fosil dinosaurus di kanada ungkap penyakit langka mirip kanker, ilmuwan terkejut!
Ilustrasi fosil Dinosaurus. (fernandolosadarodríguez)

Pematangsiantar, Sinata.id – Sebuah penemuan penting di padang rumput Alberta, Kanada, berhasil menghubungkan sejarah medis manusia dengan era prasejarah.

Tim paleontolog menemukan fosil ekor dinosaurus jenis hadrosaurus yang menunjukkan tanda-tanda penyakit langka, yaitu Histiositosis Sel Langerhans (LCH).

Advertisement

Temuan ini menjadi yang pertama, karena penyakit yang hingga kini masih ditemukan pada manusia modern tersebut berhasil diidentifikasi pada spesies yang telah punah jutaan tahun lalu.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Scientific Reports mengungkap sisi lain kehidupan dinosaurus, yakni kerentanannya terhadap penyakit kronis. Fosil tulang belakang ekor milik hadrosaurus muda dinosaurus herbivor berparuh bebek menunjukkan adanya rongga besar yang tidak lazim.

Melalui analisis mendalam oleh tim peneliti dari Tel Aviv University (TAU), rongga tersebut diketahui menyerupai lesi atau kerusakan jaringan yang biasa ditemukan pada pasien manusia penderita LCH.

Baca Juga  Ramai Tren Foto Profil Brave Pink dan Hero Green di Media Sosial, Begini Cara Bikinnya

Peneliti utama dari Sackler Faculty of Medicine TAU, Hila May, menjelaskan bahwa identifikasi dilakukan menggunakan teknologi pemindaian canggih. Timnya membuat rekonstruksi tiga dimensi (3D) untuk menganalisis struktur tumor dan pembuluh darah di sekitarnya.

Hasil analisis mikro dan makro mengonfirmasi bahwa kelainan tersebut sangat konsisten dengan karakteristik LCH.

Mengenal LCH, Penyakit Langka Sistem Imun

Histiositosis Sel Langerhans (LCH) merupakan penyakit langka yang sering dikategorikan sebagai bentuk kanker. Penyakit ini terjadi akibat mutasi pada sel Langerhans, yaitu bagian dari sistem imun yang seharusnya melawan infeksi.

Namun, dalam kondisi tertentu, sel tersebut justru berkembang secara tidak terkendali dan menyebabkan kerusakan jaringan, terutama pada tulang, yang menimbulkan rasa nyeri hebat.

Baca Juga  Cakupan 5G Indonesia Tertinggal Jauh dari Malaysia, Ini Pemicunya

Saat ini, LCH paling sering ditemukan pada anak-anak. Temuan pada fosil hadrosaurus menunjukkan bahwa mekanisme gangguan sistem imun ini telah ada sejak puluhan juta tahun lalu.

Sebelumnya, jejak penyakit serupa hanya ditemukan pada hewan modern seperti harimau dan tupai.

Membuka Jalan Kedokteran Evolusioner

Mendiagnosis penyakit pada dinosaurus bukanlah hal mudah. Namun, perkembangan teknologi pemindaian dan analisis modern kini memungkinkan para ilmuwan mengungkap kondisi kesehatan makhluk purba.

Selain LCH, sejumlah penelitian sebelumnya juga menemukan bukti penyakit lain pada dinosaurus, seperti artritis septik dan berbagai jenis kanker.

Profesor Israel Hershkovitz dari Departemen Anatomi dan Antropologi TAU menyebut penelitian ini sebagai bagian penting dari bidang kedokteran evolusioner, yaitu kajian yang menelusuri asal-usul dan perkembangan penyakit dari waktu ke waktu.

Baca Juga  Lima Fitur Wajib Monitor Gaming Modern, VRR hingga Tandem OLED Jadi Standar Baru

Melalui studi semacam ini, para ilmuwan berharap dapat memahami akar penyebab penyakit yang mampu bertahan selama jutaan tahun evolusi, sekaligus membuka peluang pengembangan metode pengobatan yang lebih efektif di masa depan.

Penemuan pada fosil hadrosaurus ini menjadi bukti bahwa sejarah penyakit manusia ternyata jauh lebih tua daripada keberadaan manusia itu sendiri. (kompas/A02)

 

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini