Pematangsiantar, Sinata.id – Kondisi memprihatinkan dialami pedagang kaki lima di Gedung 1 Pasar Horas. Setiap hujan turun, lapak jualan mereka kerap digenangi air. Itu terjadi, karena atap bangunan bocor.
Salah seorang pedagang, Elida Sidauruk, mengatakan, bahwa persoalan tersebut telah berlangsung lama tanpa penanganan yang jelas. Sebutnya, air yang masuk dari bagian atas gedung tidak hanya menggenangi lapak, tetapi juga merusak barang dagangan.
“Kalau hujan kami tidak bisa jualan. Atap bocor di mana-mana, dagangan basah semua, termasuk bawang yang harganya sedang mahal,” ujarnya saat ditemui di lokasi, Selasa (14/4/2026).
Menurut Elida, kondisi seperti itu berdampak langsung pada pendapatan pedagang yang kian menurun. Dalam sehari, mereka terkadang hanya memperoleh penghasilan sekitar Rp60 ribu. Namun di tengah kesulitan itu, kewajiban membayar retribusi tetap berjalan.
“Sudah sering kami laporkan, tapi belum ada solusi. Retribusi tetap ditagih,” tambahnya.
Keluhan serupa juga disampaikan pedagang lainnya yang berharap adanya perhatian serius dari pemerintah daerah maupun pengelola pasar.
Menanggapi hal tersebut, Direktur Utama PD Pasar Horas Jaya, Bolmen Silalahi membenarkan adanya kerusakan infrastruktur, terutama pada bagian kanopi bangunan.
Ia menyebut, kondisi serupa tidak hanya terjadi di Gedung 1, tetapi juga di Gedung 2 yang membutuhkan perbaikan menyeluruh. Menurutnya, pihak perusahaan telah mengusulkan anggaran perbaikan melalui skema penyertaan modal sejak 2024.
Namun, realisasi perbaikan masih terkendala regulasi. Dana yang telah tersedia sejak 2025 belum dapat digunakan karena masih mengacu pada Peraturan Daerah Nomor 5 dan Nomor 8 Tahun 2014 yang belum direvisi.
“Perubahan perda saat ini sedang berproses di DPRD. Jika sudah selesai, anggaran bisa digunakan untuk perbaikan,” jelasnya.
Adapun Dewan Pengawas PD Pasar Horas Jaya, Wedy Simbolon mengatakan, persoalan tersebut telah disampaikan kepada jajaran direksi.
“Sudah kami sampaikan, tinggal menunggu kebijakan dari direksi,” ujarnya singkat.
Hingga kini, para pedagang berharap perbaikan segera direalisasikan. Bagi mereka, hujan yang seharusnya membawa berkah justru menjadi ancaman bagi kelangsungan usaha mereka. (SN10)









Jadilah yang pertama berkomentar di sini