Resensi
Ladies First adalah film yang tahu apa yang ingin dikatakannya — sayangnya ia mengatakannya terlalu keras, terlalu sering, dan terlalu tanpa rasa malu.
Premisnya sesungguhnya menarik: seorang lelaki seksis terbangun di dunia yang dikuasai perempuan, lalu merasakan sendiri apa yang selama ini dialami kaum hawa.
Sebuah cermin satir yang — bila digarap dengan cermat — bisa menjadi komentar sosial yang menggigit. Namun di tangan sutradara Thea Sharrock, premis itu berubah menjadi komedi situasi yang berjalan di autopilot.
Kritikus Todd Jorgenson menyebut terlalu banyak lelucon yang gagal karena premis satu not ini berakhir pada busur cerita yang bisa ditebak sejak menit pertama.
Sementara Katie Rife dari RogerEbert.com menilai film ini sebetulnya punya poin yang valid, tapi kemudian memukul-mukulnya hingga mati.
Yang paling ironis, satu kritikus dari ScreenRant berpendapat bahwa alih-alih meruntuhkan cara pikir patriarki, film ini justru memperkuatnya — karena penonton akhirnya lebih banyak bersimpati pada karakter Damien ketimbang mempertanyakan sistemnya.
Rosamund Pike adalah satu-satunya yang selamat dari kekacauan ini. Ia tampil tajam, percaya diri, dan meyakinkan sebagai Alex Fox — sosok yang seharusnya menjadi pusat moral film ini, bukan sekadar foil bagi karakter Cohen.
Cohen sendiri dinilai berhasil menjual momen-momen penghinaan yang dialami karakternya dengan cukup menghibur, meski Pike-lah yang tampak lebih menikmati perannya.
Satu suara yang lebih simpatik datang dari Rotten Tomatoes, yang menyebut Thea Sharrock menghadirkan pendekatan yang bisa diprediksi namun cukup memuaskan soal seperti apa dunia bila perempuan yang berkuasa — dan cocok ditonton berdampingan dengan film asli Prancisnya.
Kesimpulannya: Ladies First adalah film yang mudah ditonton pada Jumat malam, tapi sulit dikenang pada Sabtu paginya.
Bagi penonton yang tidak terlalu menuntut kedalaman, ada cukup tawa yang bisa dipetik.
Bagi yang berharap satir tajam setara Barbie (2023) — yang jelas-jelas menjadi inspirasi produksinya — bersiaplah kecewa. (A08)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini