Jakarta, Sinata.id – Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) bersama Partai Buruh akan menggelar aksi demonstrasi dalam rangka memperingati Hari Buruh Internasional (May Day) pada 1 Mei 2026.
Presiden KSPI dan Partai Buruh, Said Iqbal, menyampaikan bahwa aksi tersebut akan dilaksanakan secara serentak di 38 provinsi, mencakup lebih dari 350 kabupaten/kota, dan diikuti ratusan ribu buruh.
Khusus di wilayah Jabodetabek, aksi akan dipusatkan di depan Gedung DPR RI mulai pukul 10.00 WIB. Sementara di daerah lain, aksi akan berlangsung di kantor pemerintah daerah serta gedung DPRD provinsi maupun kabupaten/kota.
“Pada 1 Mei, KSPI dan Partai Buruh akan melakukan aksi secara serentak di seluruh Indonesia. Ratusan ribu buruh akan terlibat, dan kami tidak bergabung dengan aksi serikat buruh lainnya,” ujar Said Iqbal dalam konferensi pers daring, Senin (6/4/2026).
Ia menyebutkan, aksi di berbagai daerah akan digelar di sejumlah kota besar seperti Bandung, Surabaya, Semarang, Serang, Yogyakarta, Medan, Batam, Lampung, Banjarmasin, Samarinda, Pontianak, Makassar, Gorontalo, Morowali, Ambon, Ternate, Jayapura, Mataram, Lombok, hingga Kupang.
Di Jabodetabek, aksi diperkirakan diikuti sekitar 50.000 buruh. Sementara di daerah lain, jumlah peserta mencapai ratusan ribu orang.
Enam Tuntutan Buruh
Dalam aksi May Day 2026, KSPI dan Partai Buruh kembali mengusung enam tuntutan utama:
Mendesak pengesahan RUU Ketenagakerjaan.
Menghapus sistem outsourcing dan menolak upah murah.
Menghentikan ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK).
Mendorong reformasi perpajakan, termasuk kenaikan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) menjadi Rp7,5 juta per bulan.
Mendesak pengesahan RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (PPRT).
Mendorong pengesahan RUU Perampasan Aset untuk pemberantasan korupsi.
Said Iqbal menilai, tuntutan tersebut masih sama seperti tahun sebelumnya, yang menunjukkan bahwa persoalan buruh belum mendapatkan perhatian serius.
Ia juga mengingatkan janji Presiden Prabowo Subianto terkait penghapusan sistem outsourcing yang hingga kini belum terealisasi.
Selain itu, Said menyoroti potensi meningkatnya ancaman PHK akibat kondisi global, termasuk konflik di Timur Tengah yang berdampak pada kenaikan harga energi dan biaya produksi.
Ia memastikan, aksi May Day 2026 akan berlangsung secara damai dan tertib. (A02)









Jadilah yang pertama berkomentar di sini