Jakarta, Sinata.id – Langit ibu kota Venezuela berubah mencekam pada Sabtu (3/1/2026) dini hari.
Serangkaian ledakan hebat mengguncang Caracas dan sekitarnya, menandai puncak ketegangan antara Washington dan pemerintahan Nicolas Maduro. Dalam sebuah operasi militer yang mengejutkan dunia, Maduro dikabarkan telah ditangkap dan dibawa keluar dari negaranya.
Kronologi 30 Menit yang Menegangkan
Sekitar pukul 02.00 waktu setempat, ketenangan malam di Caracas pecah oleh deru pesawat tempur yang terbang rendah. Saksi mata melaporkan asap tebal membubung tinggi dari hanggar pangkalan militer utama di kota tersebut.
Bukan hanya di ibu kota, serangan udara ini juga menyasar titik-titik strategis di Negara Bagian Miranda, Aragua, dan La Guaira.
Warga yang panik berhamburan ke jalanan, sementara video amatir yang merekam kilatan ledakan mulai membanjiri media sosial.
Operasi skala besar ini dilaporkan berlangsung intens selama kurang lebih 30 menit.
Klaim Kemenangan Donald Trump
Tak lama setelah debu ledakan mulai mengendap, Presiden AS Donald Trump melalui akun Truth Social-nya mengonfirmasi keberhasilan operasi tersebut.
”Amerika Serikat berhasil melancarkan serangan besar-besaran terhadap Venezuela. Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, telah ditangkap dan diterbangkan keluar dari negara itu,” tulis Trump.
Trump menyebutkan bahwa penangkapan ini merupakan hasil kolaborasi apik antara kekuatan militer dan aparat penegak hukum AS.
Meski Reuters menyebutkan bahwa pasukan khusus elit adalah aktor di balik penyergapan ini, sumber dari pihak oposisi memberikan spekulasi berbeda kepada Sky News, menyebutkan bahwa jatuhnya Maduro kemungkinan adalah hasil dari sebuah negosiasi rahasia yang berakhir pada penyerahan diri.
Reaksi Keras Venezuela: “Ini Agresi demi Minyak”
Pemerintah Venezuela segera merespons dengan mengeluarkan pernyataan darurat.
Mereka menuduh Washington sedang melakukan upaya imperialisme modern untuk menguasai kekayaan alam Venezuela, terutama cadangan minyak dan mineral yang melimpah.
”Venezuela menolak dan mengecam keras agresi militer ini. Ini adalah upaya untuk menghancurkan kemerdekaan politik kami,” bunyi pernyataan resmi tersebut.
Pemerintah Venezuela juga memperingatkan bahwa tindakan AS ini berisiko memicu ketidakstabilan di seluruh kawasan Amerika Latin dan Karibia.
Mengapa Sekarang?
Eskalasi ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Sejak September 2025, hubungan kedua negara telah berada di titik nadir. Trump menuding Maduro sebagai gembong “terorisme narkoba” yang mengancam keamanan nasional AS.
Operasi darat pada Sabtu pagi ini adalah langkah terjauh yang pernah diambil AS setelah berbulan-bulan melakukan tekanan ekonomi dan serangan udara terbatas.
Ketegangan semakin memuncak pekan lalu setelah CIA diduga terlibat dalam serangan drone terhadap dermaga yang disinyalir menjadi pusat aktivitas kartel narkoba.
Hingga saat ini, dunia internasional masih menunggu kepastian mengenai lokasi penahanan Maduro serta bagaimana proses transisi kekuasaan akan berjalan di Venezuela yang tengah dilanda kekacauan. []









Jadilah yang pertama berkomentar di sini