Oleh: Pdt. Mis Ev. Daniel Pardede, M.H
Perdebatan mengenai waktu kematian dan kebangkitan Yesus Kristus kembali mencuat di kalangan umat Kristen. Salah satu pokok yang menjadi perhatian adalah penafsiran ayat dalam Injil, khususnya terkait pernyataan bahwa Yesus berada dalam kubur “tiga hari tiga malam”, sebagaimana tertulis dalam Injil Matius 12:40.
Secara tradisional, gereja-gereja di seluruh dunia memperingati wafat Yesus pada Jumat Agung dan merayakan kebangkitan-Nya pada hari Minggu Paskah. Namun, sebagian kalangan menilai bahwa perhitungan tersebut belum sepenuhnya sesuai dengan ungkapan “tiga hari tiga malam” secara harfiah.
Berdasarkan narasi Injil, Yesus wafat pada hari Jumat sekitar pukul 15.00 dan dimakamkan sebelum matahari terbenam, sesuai dengan ketentuan hukum Yahudi yang melarang aktivitas pada hari Sabat. Injil-injil sinoptik serta Injil Yohanes mencatat bahwa pada “hari pertama minggu itu”, para perempuan datang ke kubur dan mendapati kubur telah kosong.
Frasa “hari pertama minggu itu” inilah yang kemudian menjadi bahan diskusi. Secara umum, istilah tersebut dipahami sebagai hari Minggu. Namun, ada pula pandangan yang menafsirkan “hari pertama” sebagai hari kerja pertama, yaitu Senin, sehingga memunculkan wacana bahwa kebangkitan seharusnya diperingati pada hari tersebut.
Selain itu, sistem penanggalan Yahudi yang menghitung hari dimulai sejak matahari terbenam juga menjadi faktor penting dalam memahami kronologi peristiwa. Dalam tradisi ini, sebagian hari dapat dihitung sebagai satu hari penuh, sehingga periode Jumat sore hingga Minggu pagi tetap dianggap memenuhi unsur “tiga hari” secara kultural dan teologis.
Di tengah perbedaan penafsiran ini, muncul usulan agar lembaga-lembaga gereja nasional, seperti Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia, Konferensi Waligereja Indonesia, serta organisasi gereja lainnya, melakukan kajian bersama untuk menetapkan secara seragam hari kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Bahkan, terdapat pula gagasan untuk mengusulkan perubahan hari libur nasional terkait perayaan kebangkitan.
Meski demikian, mayoritas gereja tetap berpegang pada tradisi yang telah berlangsung selama berabad-abad. Penetapan hari Minggu sebagai hari kebangkitan bukan hanya didasarkan pada kronologi, tetapi juga pada kesaksian Injil dan praktik gereja mula-mula yang menjadikan hari Minggu sebagai hari peribadahan utama.
Perbedaan penafsiran merupakan hal yang tidak terhindarkan dalam kehidupan iman. Namun, yang terpenting bukanlah perdebatan tentang hari, melainkan makna dari kebangkitan itu sendiri: kemenangan atas dosa dan maut, serta pengharapan baru bagi umat manusia.
Dalam semangat kasih dan persatuan, kiranya setiap orang percaya tetap berpegang pada inti iman kepada Yesus Kristus yang telah bangkit dan hidup. Shalom. (A27)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini