Sinata.id – Siang yang tenang di kota kecil Hatsukaichi, Hiroshima, kala itu mestinya biasa saja, mendadak berubah jadi mimpi buruk. Dari lantai dua sebuah rumah, jeritan minta tolong memecah keheningan, dan di sanalah, kisah tragis Satomi Kitaguchi (17) bermula.
Siswi SMA berprestasi itu ditemukan bersimbah darah usai pulang ujian, meninggalkan luka mendalam yang baru menemukan jawabannya empat belas tahun kemudian.
Angin musim gugur mengusap lembut jendela rumah keluarga Kitaguchi. Satomi, melepas sepatu, menaruh tas di kamar, dan barangkali berniat rebahan sebentar. Tak ada yang menyangka, beberapa menit kemudian, rumah yang tenang itu akan berubah jadi panggung berdarah.
Dari lantai dua, terdengar jeritan memilukan. “Tolong!”
Suara itu yang kemudian menghantui keluarga dan seluruh kota kecil di Jepang itu selama bertahun-tahun.
Ketika sang nenek dan adik berlari naik, mereka menemukan pemandangan yang tak sanggup dijelaskan kata-kata.
Baca Juga: Arie Hanggara, Duka Indonesia 1984
Satomi bersimbah darah, tubuhnya penuh luka tusukan. Di tengah kepanikan, neneknya juga diserang, empat tusukan di punggung yang hampir merenggut nyawanya.
Satomi Kitaguchi bukan remaja biasa. Ia dikenal ceria, rajin, dan berprestasi di sekolahnya.
Hari itu, 5 Oktober 2004, ia bahkan pulang lebih cepat setelah ujian. Namun, alih-alih menikmati teh hangat di rumah bersama nenek, nasib berkata lain.
Polisi menemukan sidik jari misterius, jejak sepatu asing, dan DNA lelaki yang tak dikenal.
Semua disimpan rapi dalam berkas, namun tak ada arah penyelidikan jelas.
Kasus Satomi Kitaguchi Akhirnya Terpecahkan Lewat Sidik Jari dan DNA Setelah 14 Tahun
Waktu berjalan, dan kasus itu membeku, menjadi cold case yang membayangi Hiroshima selama 14 tahun.
Waktu bergulir hingga tahun 2018. Di prefektur tetangga, Yamaguchi, polisi menangani kasus kekerasan lain.
Siapa sangka, data DNA dari pelaku kasus itu cocok sempurna dengan berkas lama pembunuhan Satomi. Nama itu, Manabu Kashima (35), pekerja konstruksi.
Penyidik seolah menemukan potongan puzzle terakhir yang hilang. April 2018, Kashima ditangkap.
Baca Juga: Oki, Pembunuh Berantai dari Jakarta yang Bikin Bingung LAPD Los Angeles
Dalam pemeriksaan, ia mengaku sempat berniat melakukan kekerasan seksual terhadap Satomi, namun ketika gadis itu melawan, amarahnya meledak.
Pisau di tangannya menghujam bertubi-tubi. Sekitar sepuluh luka tusuk di dada, punggung, dan leher menjadi saksi bisu betapa kejamnya siang itu.
Sidang yang Menguak Luka Lama
14 tahun setelah jeritan terakhir Satomi, ruang sidang di Hiroshima menjadi tempat keluarga menuntaskan penantian.
Pada 18 Maret 2020, Pengadilan Distrik Hiroshima menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup bagi Kashima.
Hakim Hisanori Sugimoto menilai tindakan terdakwa sebagai “keluaran dari ego yang ekstrem, kejahatan keji yang lahir dari kemarahan setelah upaya pemerkosaan gagal.
Baca Juga: Slamet Gundul, Wajahnya Tidak Sangar, Tapi Bikin Mabes Polri Geram Bukan Main
Di ruang sidang, terdakwa menunduk. Sementara di kursi penonton, ayah Satomi menitikkan air mata.
“Meski hanya satu nyawa, bagi kami itu seluruh dunia,” ujarnya lirih kepada media Jepang.
Ketika vonis dibacakan, suasana di ruang sidang hening.
Keluarga Satomi tak bersorak, tak menangis keras, hanya menunduk dalam kelegaan yang getir.
Penantian panjang selama 14 tahun akhirnya berakhir, meski tak ada yang bisa mengembalikan Satomi. [zainal/a46]
sumber: diolah dari berbagai sumber









Jadilah yang pertama berkomentar di sini