Info Market CPO
🗓 Update: Kamis, 7 Mei 2026 |18:20 WIB |Volume: 0.5K • 0.2K • 1K DMI • LOCO PARINDU • LOCO LUWU
HARGA CPO (WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15222 15200 (IMT) 15220 (AGM) 15350 - WD
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15222 15200 (IMT) 15220 (AGM) 15350 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14782 14455 (MNA) 14600 (PBI) 15000 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
15100 14693 14800 15275 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 1K · LOCO LUWU
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • Harga relatif stabil pada transaksi DMI
  • Selisih harga antar bidder sangat tipis
  • Masih terdapat lokasi tanpa penawaran
👥Sumber: Internal Market CPO
Regional

Kisah Pilu Fitriani, Rela Terendam Dua Malam Tanpa Makan demi Balita dan Ayah Lansia

kisah pilu fitriani, ibu di pidie jaya, yang terjebak dua hari dua malam di rumah terendam banjir. tanpa makanan dan air bersih, ia bertahan demi menyelamatkan anaknya dari amukan banjir.
Kisah pilu Fitriani, ibu di Pidie Jaya, yang terjebak dua hari dua malam di rumah terendam banjir. Tanpa makanan dan air bersih, ia bertahan demi menyelamatkan anaknya dari amukan banjir. (Masakini.co)

Sinata.id – Fitriani tak pernah membayangkan siang itu akan menjadi titik balik hidupnya. Di Gampong Dayah Husen, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, hari berjalan seperti biasa. Rumah kecil yang ia tempati bersama anak dan ayahnya tampak tenang, seolah tak menyimpan firasat apa pun. Hingga air datang diam-diam, lalu tak terbendung.

Awalnya hanya membasahi lantai. Setinggi mata kaki. Pemandangan yang kerap terjadi saat hujan deras dan biasanya segera berlalu.

Advertisement

Fitriani tak menaruh curiga. Namun dalam hitungan menit, air tak lagi memberi kesempatan.

Lantai rumah menghilang, dinding mulai basah, dan arus kian terasa menekan.

“Tidak terasa cepat kali naiknya. Tahu-tahu sudah sampai dada,” kata Fitriani, mengingat kembali detik-detik itu, dikutip Jumat (19/12/2025).

Baca Juga: Tangis Pengungsi Bireuen di Tenda Darurat: “Mak, Kapan Kita Pulang?”

Di dalam rumah, ia tak sendiri.

Putrinya yang masih berusia lima tahun dan ayahnya yang telah renta berada di sana.

Kepanikan pun tak terelakkan. Air semakin tinggi, sementara pilihan untuk menyelamatkan diri terasa kian sempit.

Baca Juga  KONI Dairi Run 5K: Ribuan Pelajar Tumpah Ruah di Jalanan Sidikalang

Ayahnya tak lagi sanggup berjalan. Menggendong di tengah arus deras bukanlah hal yang mungkin.

“Kami bisa saja keluar, tapi ayah sudah lansia. Tidak mungkin dibawa lari,” ucapnya lirih.

Dalam kondisi terjepit, naluri seorang ibu mengambil alih segalanya.

Fitriani tak lagi memikirkan dirinya sendiri.

Yang ada hanya menyelamatkan anaknya.

Baca Juga: Warga Aceh Tenggara Masih Andalkan Starlink untuk Terhubung ke Keluarga Luar Daerah

Ia mengangkat sang putri setinggi yang ia mampu, menaikkannya ke atas lemari, satu-satunya tempat yang belum tersentuh air.

“Air terus naik, kami terjebak. Anak saya saya letakkan di atas lemari,” tuturnya.

Malam turun bersama rasa dingin dan ketakutan.

Dua hari dua malam mereka bertahan di dalam rumah yang berubah menjadi perangkap air.

Tak ada nasi, tak ada lauk, tak ada air bersih.

Hanya tubuh yang menggigil dan perut yang semakin kosong.

Untuk bertahan hidup, mereka menadah air hujan seadanya.

Di sudut rumah yang gelap, tangisan kecil terus terdengar.

Baca Juga  Dandim 0208/Asahan Kunjungi Koramil Simpang Empat Perkuat Pembinaan

Sang anak merengek, meminta makan.

“Anak saya minta nasi. Saat itu hati saya seperti diremas,” ujarnya, menahan air mata.

Di tengah kelelahan dan rasa putus asa, Fitriani sempat menyerah pada keadaan.

Ia tak tahu sampai kapan bantuan akan datang, atau apakah mereka bisa bertahan lebih lama lagi.

“Saya sudah pasrah. Saya cuma berpikir, anak sekecil ini bisa kuat berapa lama,” katanya.

Ketika air akhirnya surut dan pertolongan tiba, pemandangan yang tersisa justru lebih menyakitkan.

Rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung nyaris tak lagi berbentuk.

Lumpur mengendap tebal, air kotor meninggalkan bekas kehancuran hingga setinggi dada orang dewasa.

“Rumah saya sudah tertanam lumpur. Tidak mungkin dibersihkan lagi,” ucap Fitriani pelan.

Baca Juga: Tangis Warga Aceh Tamiang Masih Terdengar Karena Kelaparan Pascabanjir

Kini, ia tak memiliki banyak pilihan selain berharap.

Harap akan bantuan, harap akan tempat tinggal sementara, harap agar kehidupan bisa kembali dirajut dari nol.

Baca Juga  Cabut Izin TPL di Samosir, Tak Cuma Hentikan Sementara Operasional

Namun di balik semua kehilangan itu, Fitriani masih memegang satu hal yang tak ternilai, anaknya yang selamat.

Bagi Fitriani, bertahan selama dua hari di tengah banjir bukan sekadar ujian fisik.

Itu adalah ujian batin yang menguras segalanya.

Setiap menit berlalu dengan kecemasan, antara berharap air segera surut dan takut jika banjir kembali meninggi.

Ia harus menenangkan anaknya, sementara di dalam dirinya sendiri, ketakutan terus bergemuruh.

Banjir Pidie Jaya bukan hanya merusak bangunan, tetapi juga merenggut rasa aman.

Trauma itu masih melekat, menyisakan kecemasan yang sulit dihapus.

Fitriani kini harus memikirkan hari esok, tempat tinggal, kebutuhan sang anak, dan perawatan ayahnya yang semakin rapuh.

Di tengah lumpur dan sisa-sisa kehancuran, kisah Fitriani menjadi potret keteguhan seorang ibu.

Di atas lemari, di tengah air yang terus naik, ia memilih bertahan demi anaknya.

Sebuah cerita tentang cinta yang tak menyerah, ketabahan yang diuji, dan harapan yang tetap hidup meski banjir telah mengambil hampir segalanya. [a46]

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini