Sinata.id – Di balik dinginnya sore musim dingin di Leeds, Inggris, waktu itu, seorang gadis 16 tahun bernama Leanne Tiernan melangkah pulang dengan senyum kecil dan kantong belanja Natal di tangannya. Tak ada yang tahu, itu akan menjadi perjalanan terakhirnya.
Angin berembus pelan, langit mulai gelap, dan jalan setapak Houghley Gill diselimuti suasana sunyi. Di antara dinginnya udara, Leanne Tiernan melangkah pulang sendirian, setelah seharian berbelanja hadiah Natal bersama temannya.
Bus yang mereka tumpangi berhenti di kawasan Bramley. Temannya, Sarah, turun lebih dulu. Leanne melanjutkan perjalanan seorang diri, memilih jalan pintas yang dikenal sepi tapi cepat menuju rumahnya.
Namun, malam itu, ia tak pernah tiba di rumah.
Ketika ibunya mencoba menelepon sekitar pukul lima sore, tak ada jawaban. Beberapa jam kemudian, rasa cemas berubah jadi ketakutan. Polisi dipanggil, dan malam itu juga pencarian besar-besaran dimulai.
West Yorkshire Police menurunkan ratusan petugas.
Baca Juga: Mertua Doyan Ngintip Menantu dan Secangkir Kopi Pembawa Maut
Mereka memeriksa rumah demi rumah, menyusuri kanal, bahkan mengeringkan saluran air untuk mencari jejak.
Lebih dari 1.800 bangunan diperiksa, dari garasi hingga gudang tua. Lubang-lubang pembuangan dibuka, kanal dikuras, dan ribuan warga turun tangan membantu.
Namun, tak ada satu pun tanda keberadaan Leanne.
Seolah gadis 16 tahun itu menghilang begitu saja di udara dingin Leeds.
Sembilan Bulan Penuh Harapan
Hari berganti minggu, minggu menjadi bulan. Setiap laporan baru membawa sedikit harapan, yang akhirnya kembali pudar.
Pihak keluarga terus menunggu kabar. Foto Leanne tersebar di koran dan televisi, menjadi wajah yang selalu ditatap penuh doa oleh publik Inggris.
Namun pada 20 Agustus 2001, sembilan bulan setelah kepergiannya, harapan itu runtuh.
Seorang pria yang sedang berjalan dengan anjingnya di Lindley Woods, kawasan hutan sunyi di perbatasan Yorkshire Utara dan Barat, menemukan sesuatu yang dibungkus plastik dan duvet bunga.
Ketika polisi tiba, udara hutan mendadak terasa lebih dingin dari biasanya. Itu adalah tubuh Leanne Tiernan.
Tubuh Leanne ditemukan dalam kondisi dibungkus sembilan lapis kantong plastik hijau, dililit tali khusus, dan kepala tertutup kantong hitam yang diikat dengan kerah anjing kulit.
Baca Juga: Kisah Tragis Satomi Kitaguchi, Siswi SMA Berprestasi yang Tak Pernah Kembali
Tangan dan kakinya terikat kuat, dan syal melilit di lehernya.
Yang membuat penyelidik heran, tubuhnya tidak membusuk sesuai lamanya ia hilang.
Tim forensik menyimpulkan, Leanne kemungkinan dibekukan selama berbulan-bulan sebelum akhirnya dikubur di hutan itu.
Kepolisian pun segera menyadari bahwa ini bukan sekadar penculikan. Ini adalah pembunuhan terencana, dan pelakunya masih bebas.
Petunjuk yang Berbicara
Bukti demi bukti mulai bicara.
Kerah anjing yang ditemukan di tubuh Leanne dilacak hingga ke pemasok di Nottingham, dan hanya satu orang yang membeli produk serupa di wilayah Leeds.
Ia adalah John Taylor, pria berusia 45 tahun, tinggal hanya sekitar satu mil dari tempat terakhir Leanne terlihat.
Awalnya, Taylor tampak seperti warga biasa. Pekerja pengantar paket, punya anjing, dan dikenal tenang. Tapi saat polisi menggeledah rumahnya, temuan itu mengubah segalanya.
Baca Juga: Mat Peci, Dari Putus Cinta Jadi Begal Legendaris Paling Ditakuti
Ada tiga freezer besar di rumahnya, tali dan kabel pengikat identik dengan yang digunakan untuk mengikat Leanne, hingga sisa serat karpet yang cocok dengan serat di pakaian korban.
Bahkan jenis pollen (serbuk bunga) di tubuh Leanne cocok dengan tanaman di halaman rumah Taylor.
Puzzle itu akhirnya lengkap, Taylor adalah pembunuhnya.
Pelaku Pembunuhan Ditangkap
John Taylor ditangkap pada 16 Oktober 2001. Di ruang interogasi, ia mencoba menyangkal, tapi bukti ilmiah sudah terlalu kuat.
Polisi menyebut Taylor sebagai “sadis seksual berbahaya”, seorang pria yang menyembunyikan kegelapan di balik wajah datarnya.
Pada 8 Juli 2002, Taylor akhirnya mengaku bersalah atas penculikan dan pembunuhan Leanne.
Hakim menjatuhkan dua hukuman penjara seumur hidup, dengan masa minimum 30 tahun sebelum bisa dipertimbangkan bebas.
Namun kebebasan bukan lagi hal yang mungkin, karena setelah pemeriksaan DNA, Taylor juga mengaku atas dua pemerkosaan lama yang sempat jadi “cold case”. [zainal/a46]









Jadilah yang pertama berkomentar di sini