Kairo, Sinata.id – Isu lingkungan dan krisis kemanusiaan kini tak lagi hanya dibahas di ruang kebijakan dan forum ilmiah. Dari jantung Timur Tengah, Indonesia membawa pesan berbeda: agama harus tampil sebagai garda depan penyelamat bumi dan perekat harmoni sosial.
Pesan itu disampaikan Kementerian Agama RI dalam forum internasional yang digelar di sela Cairo International Islamic Book Fair. Di hadapan sekitar 150 peserta dari berbagai negara dan latar belakang, Sekretaris Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Lubenah Amir, memperkenalkan konsep ekoteologi—sebuah pendekatan yang menempatkan iman sebagai motor kepedulian terhadap manusia dan alam.
Krisis Dunia Saling Terkait
Dalam paparannya, Lubenah menegaskan bahwa dunia saat ini tidak sedang menghadapi satu krisis tunggal, melainkan rangkaian persoalan yang saling terhubung.
“Peradaban modern sedang berhadapan dengan krisis yang berkelindan—mulai dari krisis ekologis, kemanusiaan, makna hidup, hingga krisis kepercayaan,” ujar Lubenah, dikutip dari laman resmi Kemenag, Senin (2/2/2026).
Menurutnya, pendekatan keagamaan tidak bisa lagi berhenti pada ritual dan simbol. Agama harus hadir sebagai kekuatan sosial yang mampu memulihkan relasi: antara manusia, alam, dan Tuhan.
“Nilai agama seharusnya menumbuhkan kepedulian dan tanggung jawab, bukan hanya identitas formal,” katanya.
Rahmah sebagai Pondasi Ekoteologi
Lubenah menekankan, dalam Islam terdapat konsep rahmah—kasih sayang universal—yang melampaui batas bangsa dan zaman. Nilai ini, kata dia, menjadi dasar teologis bagi pengembangan ekoteologi dan pembangunan berkelanjutan.
“Pesan Islam bersifat kosmik. Rahmat tidak hanya untuk manusia, tetapi untuk seluruh alam,” ujarnya.
Namun ia juga mengakui, dalam praktik modern, nilai tersebut sering terfragmentasi dan kehilangan kepekaan terhadap penderitaan sosial serta kerusakan lingkungan.
“Di sinilah pentingnya merajut kembali nilai itu, bukan sekadar wacana, tetapi menjadi napas dalam perilaku sosial, kebijakan publik, dan praktik beragama,” tegasnya.
Indonesia sebagai Model Harmoni
Dalam forum itu, Lubenah memaparkan bahwa Kementerian Agama menjadikan cinta dan kemanusiaan sebagai prioritas kebijakan. Prinsip ini diwujudkan melalui layanan keagamaan yang berdampak langsung bagi masyarakat.
“Beragama tidak boleh berhenti di altar ibadah. Ia harus terasa dalam kualitas hidup umat,” katanya.
Ia juga menyebut pengalaman Indonesia sebagai bangsa majemuk dapat menjadi contoh bagaimana agama berperan sebagai jembatan, bukan sekat.
“Cinta kemanusiaan membuat agama hadir sebagai pemersatu yang menumbuhkan empati, saling pengertian, dan kerja sama lintas iman,” ujar Lubenah.
Kolaborasi Lintas Bangsa
Seminar internasional ini juga menghadirkan Syekh Fathi Hijazi dari Universitas Al-Azhar serta Abdul Muta’ali, Atase Pendidikan KBRI untuk Mesir. Forum tersebut diharapkan memperkuat jejaring global dalam memperjuangkan nilai kemanusiaan dan keberlanjutan.
Menutup pernyataannya, Lubenah mengingatkan, dunia modern bukan kekurangan teknologi, melainkan empati.
“Kita tidak kekurangan informasi, tetapi sering kekurangan kebijaksanaan,” katanya. [a46]










Jadilah yang pertama berkomentar di sini