Info Market CPO
🗓 Update: Senin, 4 Mei 2026 |15:05 WIB |Volume: 0.5K • 0.3K • 0.2K DMI • FOB TDUKU • LOCO PARINDU • LOCO KEMBAYAN • LOCO NGABANG • LOCO LUWU
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15400 15297 (PAA) 15300 (AGM) 15415 EUP ACC
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15400 15297 (PAA) 15300 (AGM) 15145 EUP ACC
N6 N4 (N6)
Vol: 0.5K · FOB TDUKU
15198 (PRISCOLIN) 15097 (PAA) 15100 (AGM) 15215 PRISCOLIN ACC
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14875 14589 (MNA) 14700 (PBI) 15065 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.3K · LOCO KEMBAYAN
14850 14589 (MNA) 14600 (PBI) 14965 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO NGABANG
15035 14589 (MNA) 14700 (PBI) 15065 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 0.5K · LOCO LUWU
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP mendominasi pada transaksi DMI
  • PRISCOLIN unggul pada FOB TDUKU
  • Segmen LOCO masih cenderung melemah dan belum merata
👥Sumber: Internal Market CPO
Advertisement
Model
Dunia

Kasus Langka, Parasit Ular Piton Hidup di Otak Manusia

kasus langka, parasit ular piton hidup di otak manusia
Parasit Ular Piton Hidup di Otak Manusia

Jakarta, Sinata.id – Kasus medis langka terjadi di negara bagian New South Wales, Australia, ketika tim dokter menemukan seekor cacing parasit sepanjang sekitar delapan sentimeter hidup di otak seorang wanita berusia 64 tahun.

Parasit tersebut ditemukan di bagian lobus frontal otak pasien setelah serangkaian pemeriksaan medis yang dilakukan akibat gangguan kesehatan berkepanjangan.

Advertisement

Kasus ini bermula ketika pasien menjalani perawatan karena mengalami sakit perut, diare, batuk kering, serta keringat malam selama sekitar tiga minggu.

Pemeriksaan pemindaian CT menunjukkan adanya peradangan di beberapa organ, termasuk paru-paru, hati, dan limpa.

Hasil laboratorium juga memperlihatkan peningkatan jumlah sel darah putih jenis eosinofil yang umumnya muncul saat tubuh menghadapi infeksi parasit.

Baca Juga  China Bikin Harga Alat Kontrasepsi Mahal untuk Genjot Kelahiran

Baca: Penumpang Diusir dari Pesawat karena Suara Azan di Ponsel

Tim medis sempat memberikan terapi awal berupa obat antiinflamasi dan perawatan lainnya.

Namun kondisi pasien tidak membaik. Dalam beberapa bulan berikutnya, pasien masih mengalami gangguan pernapasan.

Sekitar satu tahun setelah pemeriksaan awal, gejala baru muncul berupa perubahan kondisi mental, termasuk depresi dan gangguan daya ingat.

Pemeriksaan lanjutan menggunakan MRI kemudian menemukan adanya lesi pada lobus frontal kanan otak pasien. Untuk memastikan penyebab kerusakan jaringan tersebut, dokter melakukan prosedur biopsi terbuka.

Saat operasi berlangsung, tim medis menemukan struktur menyerupai benang berwarna merah yang masih bergerak di dalam jaringan otak.

Parasit tersebut kemudian diidentifikasi sebagai Ophidascaris robertsi. Spesies ini diketahui umumnya hidup pada ular piton karpet, yakni Morelia spilota.

Baca Juga  Jemaah Umrah Indonesia Terjebak di Saudi Akibat Dampak Konflik, Kemlu Siaga Koordinasi Pemulangan

Temuan ini menjadi perhatian komunitas medis karena merupakan kasus pertama yang tercatat ketika parasit tersebut ditemukan hidup di otak manusia. Peneliti menduga pasien secara tidak sengaja menelan telur parasit setelah bersentuhan atau mengonsumsi tumbuhan liar yang terkontaminasi kotoran ular di lingkungan habitat piton.

Kasus tersebut kemudian dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Emerging Infectious Diseases sebagai laporan medis mengenai infeksi parasit langka pada manusia. (A58)

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini