Teheran, Sinata.id – Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran mengeluarkan peringatan keras terhadap Israel atas dugaan pelanggaran gencatan senjata yang baru saja disepakati.
Seorang pejabat keamanan senior Iran menyatakan bahwa negaranya siap melakukan respons pertahanan skala penuh kapan saja jika pelanggaran terus berlanjut. Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya serangan militer Israel ke wilayah Lebanon.
Menurut sumber tersebut, dunia saat ini menyaksikan bagaimana gencatan senjata yang masih rapuh mulai terguncang hanya beberapa jam setelah diumumkan. Iran menilai tindakan Israel sebagai bentuk agresi yang tidak hanya mengancam stabilitas kawasan, tetapi juga merusak upaya diplomasi internasional.
Serangan Udara Picu Korban Besar
Laporan menyebutkan bahwa Israel melancarkan lebih dari 100 serangan udara dalam waktu kurang dari 10 menit ke berbagai wilayah Lebanon, termasuk ibu kota Beirut. Serangan tersebut menyebabkan sedikitnya 245 korban jiwa dari kalangan sipil.
Peristiwa ini disebut sebagai salah satu serangan paling intens sejak eskalasi konflik terbaru pada awal Maret 2026. Situasi ini memperburuk kondisi keamanan regional yang sebelumnya sempat mereda.
Iran: Siap Hukum Agresor
Pejabat Iran menegaskan bahwa jika gencatan senjata benar-benar runtuh, maka Israel akan bertanggung jawab penuh atas konsekuensinya. Ia juga menekankan bahwa Iran tidak akan ragu untuk memberikan “hukuman” terhadap pihak yang dianggap sebagai agresor.
Selain itu, Iran meminta negara-negara mediator internasional untuk segera turun tangan guna mencegah konflik meluas. Menurutnya, langkah tegas diperlukan untuk mengendalikan situasi sebelum semakin tidak terkendali.
Ketegangan dengan Amerika Serikat
Sebelumnya, Iran mengklaim telah mencapai “kemenangan strategis” setelah Amerika Serikat menyetujui proposal 10 poin yang diajukan Teheran sebagai dasar gencatan senjata. Salah satu poin utama mencakup penghentian seluruh serangan, termasuk di Lebanon.
Namun, pelanggaran yang terjadi tak lama setelah kesepakatan membuat Iran kembali meragukan komitmen Amerika Serikat. Ketua Parlemen Iran, Mohammad-Baqer Qalibaf, bahkan menyebut negosiasi lanjutan sebagai sesuatu yang “tidak masuk akal” dalam kondisi saat ini.
Dampak terhadap Stabilitas Kawasan
Analis menilai bahwa eskalasi terbaru ini berpotensi memperburuk ketidakstabilan di Timur Tengah, terutama jika tidak ada intervensi diplomatik dalam waktu dekat. Jalur strategis seperti Selat Hormuz juga dikhawatirkan kembali terdampak jika konflik meluas.
Situasi ini masih terus berkembang, dengan perhatian dunia tertuju pada langkah selanjutnya dari Iran, Israel, dan para aktor internasional yang terlibat. (A07)









Jadilah yang pertama berkomentar di sini