Jakarta, Sinata.id – Dalam hitungan hari menjelang perilisan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS), proyeksi indikator inflasi tahunan pada Februari 2026 menunjukkan potensi kenaikan tajam yang diperkirakan mencapai level tertinggi dalam hampir tiga tahun terakhir, memicu perhatian serius pelaku ekonomi dan otoritas moneter.
Hasil survei ekonom dan lembaga riset memperkirakan bahwa inflasi tahunan pada Februari bisa meningkat ke rentang sekitar 3,64% sampai 3,92% secara year-on-year dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Risiko kenaikan harga terutama dipicu oleh efek dasar statistik, yakni basis perbandingan yang sangat rendah dari Februari 2025, serta tekanan harga komoditas pangan dan permintaan yang meningkat menjelang Ramadan dan Idul Fitri 2026.
Prediksi ini menggambarkan bahwa laju inflasi tahunan berpotensi melampaui kondisi sebelumnya di awal tahun, saat inflasi Januari 2026 sudah mencapai 3,55% yoy, angka tertinggi sejak sekitar dua setengah tahun terakhir.
Baca Juga: Bank Jepang Mizuho Siapkan Revolusi AI, 5.000 Pekerjaan Administratif Bersiap Bertransformasi
Analis ekonomi menilai tekanan harga ke atas bukan sekadar fenomena sementara. Faktor cuaca ekstrem, gangguan pasokan pangan, serta permintaan yang terus meningkat jelang musim libur dan konsumsi tinggi diyakini semakin memperkuat momentum inflasi. Permintaan musiman pada komoditas pangan utama seperti beras, daging, dan sayuran diperkirakan menjadi pendorong utama inflasi pada Februari.
Pakar ekonomi lembaga riset independen yang dikutip menyatakan, “Proyeksi inflasi Februari yang ekstrem ini secara statistik memang dipengaruhi oleh efek dasar tahun lalu, namun kita harus waspada karena tren harga pangan dan permintaan musiman tetap kuat.”
Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa kendati angka inflasi tinggi sering dikaitkan dengan faktor teknis, dinamika permintaan dan kafetaria harga komoditas tetap menjadi risiko nyata bagi konsumen.
Sementara itu, Bank Indonesia melalui pernyataan resmi sebelumnya menyampaikan keyakinan bahwa meskipun tekanan harga meningkat, inflasi tahunan pada 2026 masih diproyeksikan akan berada dalam kisaran target sasaran 2,5% ± 1% dalam jangka menengah. Kebijakan moneter yang adaptif serta pengendalian harga melalui koordinasi fiskal akan menjadi kunci untuk meredam kenaikan.
Kondisi ini mendapat sorotan luas sebab inflasi yang melampaui target dapat berdampak langsung pada daya beli masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah yang lebih rentan terhadap kenaikan biaya hidup. Dampaknya juga bisa terasa pada kebijakan suku bunga dan nilai tukar rupiah di tengah tekanan global yang fluktuatif.
Pakar fiskal berharap laporan resmi BPS nanti akan memberikan gambaran lebih lengkap tentang komponen penyumbang inflasi dan arah kebijakan yang akan ditempuh pemerintah serta bank sentral untuk menjaga stabilitas harga sepanjang tahun 2026. [a46]









Jadilah yang pertama berkomentar di sini