Situasi diperparah dengan penutupan efektif Selat Hormuz sejak perang pecah pada 28 Februari lalu. Jalur strategis tersebut biasanya dilalui sekitar seperlima distribusi minyak dan gas dunia.
Iran sebelumnya mengancam akan menyerang kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz sebagai balasan atas serangan AS-Israel.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan perang tidak akan berakhir hingga persediaan uranium yang diperkaya Iran dihancurkan.
Meski gencatan senjata yang diumumkan awal April sebagian besar masih dipatuhi, baku tembak sporadis masih terus terjadi.
Lonjakan harga energi juga membawa keuntungan besar bagi perusahaan migas global. Saudi Aramco melaporkan pendapatannya melonjak lebih dari 25 persen pada kuartal pertama 2026 dibanding periode yang sama tahun lalu.
Selain itu, BP mencatat laba lebih dari dua kali lipat, sementara Shell juga mengumumkan kenaikan pendapatan signifikan akibat melambungnya harga minyak dan gas dunia. (A08)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini