Sinata.id – Harga minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) kembali mencuri perhatian pasar global. Setelah sempat tertekan, komoditas andalan Asia Tenggara ini menunjukkan lonjakan tajam, dipicu kombinasi sentimen permintaan, pergerakan minyak nabati pesaing, hingga faktor nilai tukar.
Pada perdagangan Senin (22/12/2025), kontrak CPO pengiriman Maret tahun depan di Bursa Malaysia Derivatives Exchange ditutup menguat signifikan di level MYR 3.987 per ton. Posisi tersebut mencerminkan lonjakan lebih dari dua persen dibandingkan penutupan akhir pekan sebelumnya.
Salah satu pendorong utama reli harga datang dari ekspektasi membaiknya permintaan ekspor. Data awal lembaga survei menunjukkan pengiriman produk sawit Malaysia pada periode 1–20 Desember bergerak positif, meski angkanya bervariasi antar lembaga pemantau. Sinyal ini cukup untuk menghidupkan kembali optimisme pelaku pasar.
Baca Juga: Etalase Antam Kosong, Harga Emas Alternatif Terus Menanjak
Dukungan berikutnya datang dari pasar minyak nabati global. Harga minyak kedelai—pesaing utama CPO—kompak menguat di bursa Asia maupun Amerika Serikat. Kenaikan tersebut otomatis memperbaiki daya saing CPO, mengingat kedua komoditas kerap saling menggantikan dalam industri pangan dan energi.
Dari sisi mata uang, pelemahan tipis ringgit Malaysia terhadap dolar AS turut memberi angin segar. Karena CPO diperdagangkan dalam denominasi ringgit, depresiasi mata uang membuat kontrak sawit menjadi relatif lebih murah bagi investor asing, sehingga minat beli pun meningkat.
Tak kalah penting, pasar juga diwarnai aksi beli di harga bawah atau bargain hunting. Meski melonjak dalam sehari, secara mingguan dan bulanan harga CPO masih tercatat melemah. Kondisi ini membuat sebagian pelaku pasar menilai harga sudah cukup atraktif untuk kembali dikoleksi.
Lalu bagaimana arah CPO selanjutnya? Untuk perdagangan Selasa (23/12/2025), peluang penguatan masih terbuka, meski risikonya belum sepenuhnya hilang.
Baca Juga: Google Gugat Sindikat Peretas China, Hampir 900 Ribu Data Kartu Kredit Dicuri
Dari sisi teknikal harian, indikator Relative Strength Index (RSI) masih berada di area lemah, menandakan tren jangka pendek belum sepenuhnya berbalik. Namun indikator Stochastic RSI telah masuk zona jenuh jual, sebuah sinyal klasik yang kerap mendahului rebound harga.
Jika momentum positif berlanjut, area MYR 4.040 hingga MYR 4.079 per ton menjadi target pengujian terdekat. Skenario paling optimistis membuka peluang harga mendekati MYR 4.083 per ton.
Sebaliknya, jika tekanan kembali muncul, level MYR 3.982 per ton menjadi titik kunci yang perlu dijaga. Penembusan ke bawah berpotensi menyeret harga menguji area penopang berikutnya di kisaran MYR 3.974 hingga MYR 3.946 per ton, dengan risiko terburuk mengarah ke MYR 3.878 per ton. [a46]









Jadilah yang pertama berkomentar di sini