Info Market CPO
🗓 Update: Kamis, 30 April 2026 |18:09 WIB |Volume: 0.5K • 0.3K • 0.2K DMI • FOB TDUKU • LOCO PARINDU • LOCO KEMBAYAN • LOCO NGABANG • LOCO LUWU
HARGA CPO (WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15312 15225 (KJA) 15400 (AGM) 15450 - WD
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15312 15225 (KJA) 15205 15450 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.5K · FOB TDUKU
15112 (PRISCOLIN) 14995 (MM) 15000 (AGM) 15250 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14787 14490 (MNA) 14600 (PBI) 15100 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.3K · LOCO KEMBAYAN
14762 14490 (MNA) 14500 (PBI) 15000 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO NGABANG
14947 14490 (MNA) 14600 (PBI) 15100 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 0.5K · LOCO LUWU
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • Pasar cenderung melemah pada beberapa lokasi LOCO
  • Persaingan harga cukup ketat antar bidder
  • Masih terdapat beberapa grade tanpa penawaran
👥Sumber: Internal Market CPO
Advertisement
Model
Ekonomi & Bisnis

Harga CPO Bursa Malaysia Kembali Menguat, Pasar Baca Peluang Rebound Jangka Pendek

dunia berebut minyak, ri diminta berhenti ekspor crude: cadangan energi dinilai terlalu rapuh
Ilustrasi CPO. (Ist)

Sinata.id – Harga minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) kembali mencuri perhatian pasar global. Setelah sempat tertekan, komoditas andalan Asia Tenggara ini menunjukkan lonjakan tajam, dipicu kombinasi sentimen permintaan, pergerakan minyak nabati pesaing, hingga faktor nilai tukar.

Pada perdagangan Senin (22/12/2025), kontrak CPO pengiriman Maret tahun depan di Bursa Malaysia Derivatives Exchange ditutup menguat signifikan di level MYR 3.987 per ton. Posisi tersebut mencerminkan lonjakan lebih dari dua persen dibandingkan penutupan akhir pekan sebelumnya.

Advertisement

Salah satu pendorong utama reli harga datang dari ekspektasi membaiknya permintaan ekspor. Data awal lembaga survei menunjukkan pengiriman produk sawit Malaysia pada periode 1–20 Desember bergerak positif, meski angkanya bervariasi antar lembaga pemantau. Sinyal ini cukup untuk menghidupkan kembali optimisme pelaku pasar.

Baca Juga  Kinerja FAST 2025: Rugi Turun, Utang Naik dan Gerai KFC Menyusut

Baca Juga: Etalase Antam Kosong, Harga Emas Alternatif Terus Menanjak

Dukungan berikutnya datang dari pasar minyak nabati global. Harga minyak kedelai—pesaing utama CPO—kompak menguat di bursa Asia maupun Amerika Serikat. Kenaikan tersebut otomatis memperbaiki daya saing CPO, mengingat kedua komoditas kerap saling menggantikan dalam industri pangan dan energi.

Dari sisi mata uang, pelemahan tipis ringgit Malaysia terhadap dolar AS turut memberi angin segar. Karena CPO diperdagangkan dalam denominasi ringgit, depresiasi mata uang membuat kontrak sawit menjadi relatif lebih murah bagi investor asing, sehingga minat beli pun meningkat.

Tak kalah penting, pasar juga diwarnai aksi beli di harga bawah atau bargain hunting. Meski melonjak dalam sehari, secara mingguan dan bulanan harga CPO masih tercatat melemah. Kondisi ini membuat sebagian pelaku pasar menilai harga sudah cukup atraktif untuk kembali dikoleksi.

Baca Juga  Purbaya Persiapkan Pemangkasan Anggaran MBG, Jika Defisit APBN Berpotensi Lewati Batas 3%

Lalu bagaimana arah CPO selanjutnya? Untuk perdagangan Selasa (23/12/2025), peluang penguatan masih terbuka, meski risikonya belum sepenuhnya hilang.

Baca Juga: Google Gugat Sindikat Peretas China, Hampir 900 Ribu Data Kartu Kredit Dicuri

Dari sisi teknikal harian, indikator Relative Strength Index (RSI) masih berada di area lemah, menandakan tren jangka pendek belum sepenuhnya berbalik. Namun indikator Stochastic RSI telah masuk zona jenuh jual, sebuah sinyal klasik yang kerap mendahului rebound harga.

Jika momentum positif berlanjut, area MYR 4.040 hingga MYR 4.079 per ton menjadi target pengujian terdekat. Skenario paling optimistis membuka peluang harga mendekati MYR 4.083 per ton.

Sebaliknya, jika tekanan kembali muncul, level MYR 3.982 per ton menjadi titik kunci yang perlu dijaga. Penembusan ke bawah berpotensi menyeret harga menguji area penopang berikutnya di kisaran MYR 3.974 hingga MYR 3.946 per ton, dengan risiko terburuk mengarah ke MYR 3.878 per ton. [a46]

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini