Info Market CPO
🗓 Update: Rabu, 20 Mei 2026 |18:50 WIB |Volume: 0.5K • 2.6K • 0.5K • 0.5K • 0.2K DMI • FOB PALOPO • DMI • DMI • LOCO PARINDU
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
- 14500 (IMT) 12100 (IBP) 15500 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 2.6K · FOB PALOPO
- - - - - NO BIDDER
N4 N4 (N4)
Vol: 0.5K · DMI
- 14500 (IMT) 12100 (IBP) 15500 - WD
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
- 14500 (IMT) 12100 (IBP) 15500 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
- 11010 (MNA) - 15150 WD
Catatan Pasar
  • Tender PTPN didominasi status WD. Tender DMI mencatat CTR di level 15.500 dengan bidder IMT, IBP, dan PAA. Tender FOB PALOPO belum terdapat bidder. Tender LOCO PARINDU mencatat penawaran MNA di level 11.010 dengan CTR 15.150.
👥Sumber: Internal Market CPO
Model
Ekonomi & Bisnis

Kinerja FAST 2025: Rugi Turun, Utang Naik dan Gerai KFC Menyusut

kinerja fast 2025: rugi turun, utang naik dan gerai kfc menyusut
Salah satu gerai KFC. (kfc)

Jakarta, Sinata.id – Emiten pengelola jaringan KFC dan Taco Bell di Indonesia, PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST), masih mencatatkan kinerja negatif sepanjang tahun 2025, meski kerugian berhasil ditekan dibandingkan tahun sebelumnya.

Seperti dilansir Minggu (19/4/2026), berdasarkan laporan keuangan, FAST membukukan rugi bersih sebesar Rp366,04 miliar pada 2025. Angka tersebut menyusut 54,05 persen secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan rugi Rp796,71 miliar pada periode sebelumnya.

Advertisement

Sementara itu, penjualan dan pendapatan usaha tercatat sebesar Rp4,88 triliun hingga akhir 2025, naik tipis 0,11 persen dibandingkan Rp4,87 triliun pada tahun sebelumnya.

Secara rinci, pendapatan FAST berasal dari segmen makanan dan minuman Rp4,86 triliun, komisi penjualan konsinyasi Rp16,91 miliar, da jasa layanan antar Rp2,25 miliar.

Baca Juga  Harga BBM April 2026 Resmi Tak Naik, Ini Daftar Lengkap di Semua SPBU

Di sisi lain, beban pokok penjualan berhasil ditekan menjadi Rp1,99 triliun dari sebelumnya Rp2,03 triliun. Hal ini mendorong laba bruto naik menjadi Rp2,88 triliun dari Rp2,84 triliun.

Namun, tekanan masih terlihat pada beban operasional. Beban penjualan tercatat Rp2,60 triliun, meski turun dari Rp2,71 triliun. Beban umum dan administrasi juga turun menjadi Rp665,33 miliar dari Rp690,45 miliar.

Di sisi lain, beban keuangan meningkat menjadi Rp90,06 miliar dari Rp81,45 miliar. Sementara itu, pendapatan lain-lain naik signifikan menjadi Rp156,83 miliar dari Rp63,00 miliar, sehingga membantu menahan tekanan kinerja.

Setelah memperhitungkan seluruh komponen, perusahaan mencatat rugi sebelum pajak sebesar Rp397,54 miliar, membaik dari Rp862,55 miliar pada tahun sebelumnya.

Utang Meningkat dan Risiko Keuangan

Di tengah perbaikan rugi, tekanan justru datang dari sisi struktur keuangan. Utang bank jangka panjang FAST melonjak tajam menjadi Rp1,82 triliun pada 2025, dari sekitar Rp353 miliar pada tahun sebelumnya.

Baca Juga  Harga CPO PTPN Hari Ini Selasa 23 Desember 2025: Tembus Rp14.285 per Kg

Auditor juga menyoroti adanya ketidakpastian material terkait kelangsungan usaha (going concern). Hal ini terlihat dari liabilitas jangka pendek yang melebihi aset lancar hingga Rp1,3 triliun, serta akumulasi kerugian yang telah mencapai Rp507 miliar.

FAST juga melakukan penyesuaian jaringan usaha. Jumlah gerai tercatat turun menjadi 690 outlet pada akhir 2025, dari 715 outlet pada 2024, atau berkurang sekitar 25 gerai.

Meski demikian, perusahaan tetap agresif melakukan belanja modal. Arus kas untuk aktivitas investasi mencapai Rp1 triliun, yang sebagian besar digunakan untuk penambahan aset tetap dan renovasi gerai.

Dari sisi likuiditas, perusahaan masih mencatat arus kas operasional positif sebesar Rp203 miliar.

Posisi Aset dan Kas

Baca Juga  Menkeu Wajibkan 27 Bank Laporkan Transaksi Kartu Kredit ke DJP Mulai 2026, Ini Daftarnya

Total aset FAST tercatat sebesar Rp4,94 triliun pada 2025, meningkat dari Rp3,52 triliun pada 2024. Liabilitas juga naik menjadi Rp4,51 triliun dari Rp3,4 triliun.

Sementara itu, ekuitas perusahaan meningkat signifikan menjadi Rp435,85 miliar dari Rp127,73 miliar. Saldo kas dan setara kas akhir tahun tercatat Rp147,22 miliar, naik dari Rp64,82 miliar.

Meski menunjukkan perbaikan dari sisi kerugian, kinerja PT Fast Food Indonesia Tbk masih menghadapi tantangan besar, terutama dari tekanan utang dan efisiensi operasional di tengah persaingan industri makanan cepat saji. (A02)

 

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini