Oleh: Pdt Mis Ev Daniel Pardede,MH
Belajar Mengampuni Seperti Yesus: Makna Lukas 23:34 bagi Kehidupan Orang Percaya.
“Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Lukas 23:34)
Ayat ini merupakan salah satu perkataan paling menyentuh yang diucapkan oleh Tuhan Yesus ketika Ia tergantung di kayu salib. Dalam keadaan penuh penderitaan, disiksa, dicaci, dan dihina, Yesus justru memilih untuk mengampuni orang-orang yang menyiksa-Nya.
Baca Juga: Delapan Perkataan Yesus di Kayu Salib: Makna Rohani dan Pesan Keselamatan bagi Umat Kristen
Peristiwa ini menjadi pelajaran rohani yang sangat penting bagi setiap orang percaya tentang arti pengampunan sejati.
Yesus Mengalami Penderitaan yang Tidak Layak Diterima
Sebelum disalibkan, Yesus Kristus mengalami rangkaian penderitaan yang berat.
Ia ditangkap di Taman Getsemani, ditahan semalaman, diadili dengan tuduhan yang tidak benar, dihina, dicambuk, diludahi, dan dipaksa memikul salib-Nya sendiri sepanjang jalan penderitaan Via Dolorosa menuju Bukit Golgota.
Secara manusia, penderitaan itu sudah sangat berat. Namun yang lebih luar biasa adalah sikap hati Yesus ketika menghadapi semua itu.
Alih-alih membalas atau mengutuk, Yesus justru berkata:
“Ya Bapa, ampunilah mereka.”
Perkataan ini menunjukkan bahwa kasih dan pengampunan adalah inti dari ajaran Kristus.
Mengampuni: Hal yang Paling Sulit bagi Manusia
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang merasa sangat sulit untuk mengampuni orang yang telah menyakiti atau berbuat salah kepada mereka.
Bahkan dalam hubungan keluarga, persahabatan, lingkungan kerja, maupun dalam kehidupan gereja, konflik sering terjadi dan meninggalkan luka batin yang mendalam.
Tidak sedikit orang yang menyimpan kepahitan, kemarahan, dan dendam bertahun-tahun.
Padahal Alkitab dengan jelas mengingatkan bahwa orang yang tidak mau mengampuni sesamanya juga tidak akan menerima pengampunan dari Tuhan.
Yesus sendiri berkata dalam:
Matius 6:14-15
“Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.”
Demikian juga dalam Markus 11:25, Yesus menegaskan bahwa setiap orang yang berdoa harus terlebih dahulu mengampuni orang lain.
Pengampunan Membebaskan Hati dan Jiwa
Mengampuni bukan berarti membenarkan kesalahan orang lain.
Mengampuni adalah melepaskan beban kebencian dan menyerahkan keadilan kepada Tuhan.
Ketika seseorang memilih untuk mengampuni, ia sedang membuka pintu bagi:
- kedamaian hati
- pemulihan hubungan
- kesehatan rohani
- dan berkat Tuhan dalam hidupnya
Sebaliknya, menyimpan dendam hanya akan merusak hati, pikiran, dan hubungan dengan Tuhan.
Belajar Mengampuni Seperti Kristus
Sebagai pengikut Kristus, setiap orang percaya dipanggil untuk meneladani sikap Yesus.
Pengampunan yang Yesus ajarkan bukanlah pengampunan yang bersyarat, tetapi pengampunan yang lahir dari kasih dan kerendahan hati.
Ketika kita mengampuni orang lain, kita sedang mencerminkan karakter Kristus dalam kehidupan kita.
Mengampuni memang tidak mudah, tetapi pengampunan adalah jalan menuju kebebasan rohani dan damai sejahtera dari Tuhan.
Yesus telah memberi teladan yang sempurna ketika Ia mengampuni mereka yang menyalibkan-Nya. Oleh karena itu, sebagai umat Tuhan, marilah kita belajar untuk melepaskan dendam dan memilih mengampuni.
Sebab pada akhirnya, orang yang mengampuni bukanlah orang yang kalah, tetapi orang yang menang atas kebencian dan dosa.
Shalom.
Mari berlomba-lomba melakukan kebajikan, hidup dalam kasih, dan selalu siap mengampuni seperti Kristus telah mengampuni kita.(A27)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini