Sinata.id – Pemerintah pusat menyatakan Indonesia masih mampu menangani dampak banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera tanpa menetapkan status bencana nasional. Pernyataan itu disampaikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto saat rapat terbatas di Aceh Tamiang, Kamis (1/1/2026).
Menurut Presiden, bencana yang terjadi baru berdampak pada tiga provinsi, sementara negara masih memiliki kapasitas nasional untuk mengatasinya.
Pemerintah, kata dia, memilih tidak menetapkan status bencana nasional karena ingin menunjukkan bahwa negara masih sanggup menghadapi krisis tersebut dengan sumber daya sendiri.
Namun, di lapangan, kondisi yang dihadapi warga terdampak belum sepenuhnya mencerminkan klaim tersebut.
Baca Juga: Bencana Belum Pulih, “Bisnis” Lumpur Banjir Aceh Sudah Dibahas
Sejumlah korban banjir dan longsor masih bertahan di pos pengungsian, dengan keterbatasan logistik, akses air bersih, serta kebutuhan dasar lainnya.
Aktivitas pemulihan belum merata, sementara sebagian wilayah masih bergulat dengan lumpur, kerusakan rumah, dan hilangnya mata pencaharian.
Di tengah klaim kemampuan negara, Presiden juga menegaskan bahwa pemerintah tidak menutup pintu bagi bantuan asing.
Ia menilai bantuan internasional merupakan persoalan kemanusiaan yang tidak boleh dibatasi oleh gengsi atau pertimbangan politik.
“Kalau ada yang mau membantu, masa kita tolak. Bodoh kalau kita tolak,” ujar Presiden, menekankan bahwa keterbukaan terhadap bantuan luar negeri tidak berarti pemerintah mengakui ketidakmampuan negara.
Baca Juga: Presiden Prabowo Persilakan Bantuan Asing Masuk ke Aceh Tamiang
Pemerintah, lanjut Presiden, telah mengerahkan menteri dan kepala lembaga ke berbagai titik terdampak serta menyiapkan anggaran besar untuk penanganan bencana.
Bantuan dari luar negeri maupun pihak swasta dipersilakan, asalkan melalui mekanisme resmi agar penyalurannya tepat sasaran dan tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari.
Meski demikian, bagi warga terdampak, perdebatan soal status bencana nasional atau mekanisme bantuan terasa jauh dari kebutuhan paling mendesak.
Yang mereka hadapi sehari-hari adalah upaya bertahan hidup di tengah keterbatasan, menunggu bantuan datang secara konsisten, dan berharap pemulihan berjalan lebih cepat.
Baca Juga: Prabowo Klaim Pemerintah Habis-Habisan Tangani Bencana Aceh–Sumatera
Situasi ini menempatkan bencana Sumatera dalam dua narasi yang berjalan bersamaan.
Di satu sisi, negara menyatakan masih mampu dan ingin menjaga citra kemandirian.
Di sisi lain, warga di lapangan masih bergulat dengan dampak bencana yang belum sepenuhnya teratasi. [a46]









Jadilah yang pertama berkomentar di sini