Para tahanan, lanjutnya, hanya diberi roti dan air, serta harus tidur di atas kasur busa yang menyerap air.
Ia juga mengklaim penjaga kerap bersikap kasar, agresif, dan manipulatif.
Davidson juga menyoroti kondisi dua aktivis lain, termasuk Saif Abu Keshek yang memiliki identitas Palestina.
“Kami tahu betapa rentannya warga Palestina di tangan Israel,” katanya.
Kelompok tersebut bahkan sempat menolak meninggalkan kapal sebelum memastikan keselamatan kedua aktivis tersebut.
Pada akhirnya, mereka diberi pilihan untuk meninggalkan wilayah tersebut atau dipindahkan ke penjara di Israel.
Kronologi dan Misi Kemanusiaan
Insiden pencegatan terjadi pada Kamis di dekat sebuah pulau Yunani, sekitar 600 mil laut dari tujuan akhir mereka, Gaza.
Armada bantuan ini sebelumnya berangkat dari Barcelona pada 12 April, sementara armada utama berlayar dari Sisilia pada 26 April.
Sebanyak 59 aktivis dari berbagai negara, termasuk 18 warga Turki, akhirnya tiba di Turki pada Jumat malam menggunakan penerbangan Turkish Airlines dari Kreta, Yunani.
Seruan ke Dunia Internasional
Menutup pernyataannya, Davidson mendesak komunitas internasional untuk tidak tinggal diam.
“Semua orang harus bangkit. Ini tidak hanya akan berhenti di Palestina, ini bisa menyebar ke seluruh dunia,” tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak Israel terkait tuduhan tersebut. (A08)









Jadilah yang pertama berkomentar di sini