Info Market CPO
🗓 Update: Senin, 11 Mei 2026 |15:20 WIB |Volume: 0.5K • 0.2K • 2.6K DMI • LOCO NGABANG • LOCO KEMBAYAN • LOCO PARINDU • FOB PALOPO
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15325 15217 (PAA) 15203 - EUP ACC
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15325 15217 (PAA) 15203 - EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO NGABANG
14975 14774 (MNA) 14550 (PBI) - EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO KEMBAYAN
14875 14624 (MNA) 14450 (PBI) - EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.5K · LOCO PARINDU
14885 14699 (MNA) 14550 (PBI) 14975 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 2.6K · FOB PALOPO
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP mendominasi pada transaksi DMI dan segmen LOCO
  • Persaingan harga masih cukup ketat antar bidder
  • Masih terdapat lokasi tanpa penawaran
👥Sumber: Internal Market CPO
Model
Sains & Teknologi

AI Bisa Deteksi Kanker Lewat Suara, Ini Fakta Penelitian Terbaru

ai bisa deteksi kanker lewat suara, ini fakta penelitian terbaru
Ilustrasi suara. (freepik)

Pematangsiantar, Sinata.id – Teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence kini mulai dimanfaatkan untuk mendeteksi penyakit hanya dari suara manusia. Inovasi ini bahkan berpotensi mengenali tanda awal kanker tanpa prosedur medis yang invasif.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pola suara seseorang dapat menyimpan sinyal tersembunyi yang berkaitan dengan kondisi kesehatan.

Advertisement

Suara Manusia Simpan Indikator Penyakit

Mengacu pada publikasi dalam jurnal Frontiers in Digital Health, suara manusia dapat menjadi indikator awal berbagai penyakit, termasuk kanker laring atau kanker pita suara.

Secara global, penyakit ini masih menjadi masalah kesehatan serius. Perubahan kecil dalam suara dapat mengindikasikan adanya gangguan pada pita suara, mulai dari kondisi ringan seperti nodul hingga tanda awal kanker.

Baca Juga  Perketat Kendali Media Sosial: Rusia Blokir WhatsApp, Instagram, Facebook dan Telegram

AI Analisis Pola Suara

Dalam penelitian tersebut, tim ilmuwan menganalisis berbagai aspek suara, seperti nada, stabilitas pitch, volume, dan kejernihan suara.

Selain itu, parameter teknis seperti jitter (variasi nada), shimmer (perubahan amplitudo), serta rasio harmonik terhadap noise juga diteliti.

Data penelitian mencakup 12.523 rekaman suara dari 306 partisipan di Amerika Utara. Hasilnya menunjukkan perbedaan pola suara yang signifikan antara individu sehat, penderita gangguan pita suara, dan pasien kanker laring, khususnya pada laki-laki.

Peneliti dari Oregon Health & Science University, Phillip Jenkins, menyatakan bahwa biomarker suara dapat digunakan untuk membedakan kondisi kesehatan seseorang.

Potensi Deteksi Non-Invasif

Saat ini, diagnosis kanker laring umumnya dilakukan melalui prosedur seperti endoskopi dan biopsi yang bersifat invasif.

Baca Juga  Vidi Aldiano Meninggal Dunia, Kenali Kanker Ginjal dan Gejalanya

Teknologi berbasis AI ini dinilai berpotensi menjadi alternatif yang lebih cepat, sederhana, dan tidak menyakitkan. Suara manusia dapat dimanfaatkan sebagai biomarker praktis untuk mendeteksi risiko kanker sejak dini.

“Hasil penelitian menunjukkan bahwa data suara yang dikumpulkan secara etis dapat membantu menjadikan suara sebagai biomarker dalam praktik klinis,” ujar Jenkins.

Masih Perlu Pengembangan

Meski menjanjikan, teknologi ini masih membutuhkan pengembangan lebih lanjut sebelum digunakan secara luas.

Peneliti menilai diperlukan dataset yang lebih besar dan beragam agar sistem dapat bekerja optimal pada semua kelompok, termasuk perempuan.

Selain itu, model AI juga harus melalui uji klinis yang ketat untuk memastikan akurasi dan keamanannya dalam praktik medis.

Baca Juga  AI Pocket Lab, Superkomputer Mini Seukuran Powerbank dengan Kemampuan Setara PhD

Peluang Masa Depan

Penelitian ini membuka peluang baru dalam dunia medis, khususnya untuk deteksi dini penyakit secara cepat dan non-invasif.

Dengan bantuan Artificial Intelligence, perubahan kecil dalam suara berpotensi menjadi sinyal awal gangguan kesehatan, termasuk kanker.

Jika terus dikembangkan, teknologi ini dapat menjadi solusi inovatif untuk meningkatkan kualitas diagnosis dan mempercepat penanganan pasien di masa depan. (kompas/A02)

 

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini