Pematangsiantar, Sinata.id – Teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence kini mulai dimanfaatkan untuk mendeteksi penyakit hanya dari suara manusia. Inovasi ini bahkan berpotensi mengenali tanda awal kanker tanpa prosedur medis yang invasif.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pola suara seseorang dapat menyimpan sinyal tersembunyi yang berkaitan dengan kondisi kesehatan.
Suara Manusia Simpan Indikator Penyakit
Mengacu pada publikasi dalam jurnal Frontiers in Digital Health, suara manusia dapat menjadi indikator awal berbagai penyakit, termasuk kanker laring atau kanker pita suara.
Secara global, penyakit ini masih menjadi masalah kesehatan serius. Perubahan kecil dalam suara dapat mengindikasikan adanya gangguan pada pita suara, mulai dari kondisi ringan seperti nodul hingga tanda awal kanker.
AI Analisis Pola Suara
Dalam penelitian tersebut, tim ilmuwan menganalisis berbagai aspek suara, seperti nada, stabilitas pitch, volume, dan kejernihan suara.
Selain itu, parameter teknis seperti jitter (variasi nada), shimmer (perubahan amplitudo), serta rasio harmonik terhadap noise juga diteliti.
Data penelitian mencakup 12.523 rekaman suara dari 306 partisipan di Amerika Utara. Hasilnya menunjukkan perbedaan pola suara yang signifikan antara individu sehat, penderita gangguan pita suara, dan pasien kanker laring, khususnya pada laki-laki.
Peneliti dari Oregon Health & Science University, Phillip Jenkins, menyatakan bahwa biomarker suara dapat digunakan untuk membedakan kondisi kesehatan seseorang.
Potensi Deteksi Non-Invasif
Saat ini, diagnosis kanker laring umumnya dilakukan melalui prosedur seperti endoskopi dan biopsi yang bersifat invasif.
Teknologi berbasis AI ini dinilai berpotensi menjadi alternatif yang lebih cepat, sederhana, dan tidak menyakitkan. Suara manusia dapat dimanfaatkan sebagai biomarker praktis untuk mendeteksi risiko kanker sejak dini.
“Hasil penelitian menunjukkan bahwa data suara yang dikumpulkan secara etis dapat membantu menjadikan suara sebagai biomarker dalam praktik klinis,” ujar Jenkins.
Masih Perlu Pengembangan
Meski menjanjikan, teknologi ini masih membutuhkan pengembangan lebih lanjut sebelum digunakan secara luas.
Peneliti menilai diperlukan dataset yang lebih besar dan beragam agar sistem dapat bekerja optimal pada semua kelompok, termasuk perempuan.
Selain itu, model AI juga harus melalui uji klinis yang ketat untuk memastikan akurasi dan keamanannya dalam praktik medis.
Peluang Masa Depan
Penelitian ini membuka peluang baru dalam dunia medis, khususnya untuk deteksi dini penyakit secara cepat dan non-invasif.
Dengan bantuan Artificial Intelligence, perubahan kecil dalam suara berpotensi menjadi sinyal awal gangguan kesehatan, termasuk kanker.
Jika terus dikembangkan, teknologi ini dapat menjadi solusi inovatif untuk meningkatkan kualitas diagnosis dan mempercepat penanganan pasien di masa depan. (kompas/A02)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini