Moskow, Sinata.id β Pemerintah Rusia memblokir akses terhadap empat platform media sosial dan pesan instan populer, yakni WhatsApp, Instagram, Facebook, dan Telegram, dengan mencabutnya dari direktori daring nasional. Kebijakan ini membuat layanan-layanan tersebut tidak lagi dapat diakses secara normal oleh pengguna di wilayah Rusia.
Langkah tersebut diambil setelah pemerintah sebelumnya memperingatkan sejumlah platform asing agar mematuhi ketentuan hukum domestik, termasuk kewajiban penyimpanan data pengguna di dalam negeri. Pemblokiran WhatsApp disebut berdampak pada lebih dari 100 juta pengguna di Rusia.
Dalam pernyataan yang diunggah di platform X dan dikutip CNBC, pihak WhatsApp belum lama ini menyatakan, βHari ini pemerintah Rusia berupaya memblokir WhatsApp sepenuhnya untuk mendorong orang-orang beralih ke aplikasi mata-mata milik negara.β
Perusahaan itu juga menambahkan, βUpaya untuk mengisolasi lebih dari 100 juta pengguna dari komunikasi yang private dan aman adalah langkah mundur dan hanya akan menurunkan tingkat keamanan pengguna di Rusia. Kami akan terus melakukan segala yang kami bisa untuk menjaga pengguna agar tetap terhubung.β
Baca juga:Β Makam Berusia Seribu Tahun Ditemukan di Panama, Dipenuhi Artefak Emas
Otoritas Rusia sebelumnya mendorong masyarakat menggunakan aplikasi pesan lokal bernama Max sebagai alternatif. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengatakan aplikasi tersebut telah tersedia bagi warga dan terus dikembangkan.
βMax adalah alternatif yang mudah diakses, aplikasi pesan yang sedang berkembang, aplikasi pesan nasional. Dan aplikasi ini tersedia di pasaran untuk warga negara (Rusia),β ujarnya.
Badan pengawas telekomunikasi Rusia, Roskomnadzor, menilai sejumlah platform asing tidak memenuhi ketentuan perundang-undangan, termasuk kewajiban penyimpanan data di dalam negeri dan pencegahan penyalahgunaan layanan untuk aktivitas kriminal maupun terorisme.
Pemerintah Rusia menyatakan penguatan aplikasi domestik dilakukan untuk meningkatkan perlindungan warga dari penipuan serta ancaman keamanan.
Namun, kebijakan pemblokiran Telegram memicu kekhawatiran di sejumlah wilayah, termasuk daerah perbatasan dengan Ukraina yang selama ini memanfaatkan aplikasi tersebut untuk menerima informasi peringatan serangan.
βSaya khawatir ini dapat memperlambat arus informasi, jika situasinya memburuk,β kata salah satu gubernur di wilayah tersebut. (A58)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini