Jakarta, Sinata.id – Dolar Amerika Serikat (AS) kembali menguat terhadap sejumlah mata uang utama dunia dan Asia pada perdagangan Kamis (28/5/2026) sore.
Penguatan dolar AS tersebut turut menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah yang semakin mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Berdasarkan data Yahoo Finance per pukul 18.00 WIB, pasangan EUR/USD berada di level 1,1609 atau turun 0,13 persen. Poundsterling Inggris juga melemah dengan posisi GBP/USD di level 1,3399 atau turun 0,21 persen.
Sementara itu, yen Jepang masih berada dalam tekanan terhadap dolar AS. Pasangan USD/JPY tercatat di level 159,4380 atau naik tipis 0,02 persen, mendekati level tertinggi tahunannya di kisaran 160,70.
Dolar Australia turut melemah dengan AUD/USD berada di level 0,7116 atau turun 0,28 persen.
Rupiah Melemah Bersama Mata Uang Asia
Di kawasan Asia Tenggara, rupiah berada di level Rp17.785 per dolar AS atau melemah 0,05 persen.
Pelemahan juga terjadi pada sejumlah mata uang regional lainnya. Ringgit Malaysia tercatat di level USD/MYR 3,9750 atau naik 0,38 persen. Baht Thailand melemah dengan posisi USD/THB di level 32,7000 atau naik 0,37 persen.
Sementara itu, peso Filipina berada di level USD/PHP 61,5600 atau melemah 0,10 persen. Dolar Singapura juga tertekan dengan posisi USD/SGD di level 1,2796 atau naik 0,22 persen.
Berbeda dengan mayoritas mata uang Asia, dolar Hong Kong relatif stabil dengan posisi USD/HKD di level 7,8327 atau turun tipis 0,01 persen.
Geopolitik dan Harga Minyak Tekan Rupiah
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipicu kombinasi faktor eksternal dan internal yang semakin besar.
“Ya hari ini cukup luar biasa terhadap pelemahan mata uang rupiah. Saat saya membuat list ini, rupiah sudah melemah 70 poin di level Rp17.870. Ada kemungkinan pembukaan pasar besok rupiah mendekati level Rp18.000,” ujar Ibrahim, Kamis (28/5/2026).
Menurutnya, ketegangan geopolitik global menjadi salah satu faktor utama yang mendorong penguatan dolar AS sebagai aset safe haven.
Ia menyoroti meningkatnya tensi di Timur Tengah dan Eropa Timur yang memicu kekhawatiran pasar global.
“Ketegangan di Timur Tengah dan Eropa membuat investor beralih ke dolar AS sebagai aset aman,” katanya.
Selain faktor geopolitik, lonjakan harga minyak dunia juga dinilai memperburuk tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
“Kemudian ketegangan di Eropa maupun Timur Tengah membuat harga minyak kembali di atas 92 dolar AS bahkan kini mendekati 96 dolar AS untuk WTI,” ucap Ibrahim.
Faktor Domestik Ikut Membebani
Ibrahim menambahkan, faktor domestik turut memberikan tekanan terhadap rupiah. Tingginya kebutuhan dolar AS untuk impor minyak, pembayaran dividen perusahaan, hingga arus modal asing keluar dari pasar domestik menjadi faktor tambahan pelemahan mata uang Garuda.
Di sisi lain, ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat masih menopang penguatan dolar AS di pasar global.
Kondisi tersebut membuat tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih berlanjut dalam jangka pendek apabila sentimen global belum mereda. (A02)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini