Papua Selatan, Sinata.id – Tokoh perempuan adat dan pejuang lingkungan asal Merauke, Yasinta Moiwend alias Mama Sinta, menyatakan dukungannya terhadap pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) lumbung pangan di Papua Selatan.
Mama Sinta mengaku kecewa karena namanya disebut-sebut dalam narasi penolakan PSN, termasuk dikaitkan dengan Film Pesta Babi tanpa persetujuannya.
“Saya sudah ambil keputusan sendiri. Saya mau cari pekerjaan di perusahaan karena rumah saya ingin direhab, sebab sudah tidak layak lagi,” kata Mama Sinta, Senin (25/5/2026).
Ia menjelaskan kondisi ekonomi keluarganya saat ini cukup sulit. Selain rumah yang membutuhkan perbaikan, ketiga anaknya juga memerlukan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Sebelumnya, Mama Sinta bersama kelompok masyarakat adat Marind sempat diajak menyuarakan penolakan terhadap pembukaan lahan oleh pemerintah di Papua. Namun, pernyataannya kemudian viral di media sosial hingga dijadikan bagian dari Film Pesta Babi.
“Akhirnya saya sudah terlanjur viral di mana-mana. Mereka juga membuat film Pesta Babi tanpa izin dan tanpa sepengetahuan saya. Itu yang membuat saya sangat kecewa,” tuturnya.
Mama Sinta mengungkapkan wajahnya juga digunakan dalam poster film tersebut. Karena itu, ia menyampaikan permintaan maaf kepada pemerintah atas berbagai pernyataan sebelumnya yang dianggap menyerang pembangunan PSN di Papua.
Kini, Mama Sinta memilih mendukung program pemerintahan Prabowo Subianto melalui pembangunan PSN di Papua Selatan. Ia berharap pemerintah dapat membantu masyarakat melalui kerja sama dengan perusahaan yang beroperasi di wilayah tersebut.
“Pemerintah bisa membantu kami lewat perusahaan yang ada. Kami mendukung karena kami tidak punya apa-apa di kampung ini,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Mama Sinta juga memperlihatkan kondisi dapurnya yang serba terbatas. Ia mengaku masih menggunakan kayu bakar karena kompor minyak miliknya sudah rusak dan tidak layak digunakan.
“Sumbunya sudah habis. Kalau dibakar memang menyala, tetapi apinya tidak bisa naik, jadi terpaksa saya pakai kayu bakar,” katanya.
Mama Sinta berharap pembangunan PSN dapat membawa dampak nyata bagi masyarakat adat di Papua Selatan, khususnya dalam membuka lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan warga kampung.
“Harapan kami hanya kepada pemerintah. Kalau ada kerja sama antara perusahaan dan masyarakat, maka kami mendukung. Perusahaan boleh lanjut sampai kami juga bisa menikmati hasilnya,” tandasnya. (A02)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini