Jakarta, Sinata.id – Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (20/5/2026).
Pelemahan terjadi di tengah pergerakan bervariasi mata uang Asia dan Eropa serta meningkatnya perhatian pasar terhadap hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka turun 32 poin atau 0,18 persen ke level Rp17.738 per dolar AS dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Sementara itu, data TradingView mencatat rupiah sempat bergerak lebih rendah hingga menyentuh Rp17.742 per dolar AS atau melemah 0,20 persen pada awal perdagangan. Indeks dolar AS juga tercatat menguat 0,05 persen ke level 99,37.
Pergerakan mata uang di kawasan Asia pada perdagangan pagi ini terpantau bervariasi. Yen Jepang (JPY) menguat 0,02 persen, sedangkan dolar Hong Kong (HKD) melemah 0,01 persen. Dolar Singapura (SGD) bergerak stagnan, sementara dolar Taiwan (TWD) turun 0,07 persen dan won Korea Selatan (KRW) melemah 0,01 persen.
Selain itu, peso Filipina (PHP) menguat 0,01 persen dan yuan China (CNY) naik 0,01 persen. Sebaliknya, rupee India (INR) turun 0,18 persen, ringgit Malaysia (MYR) melemah 0,09 persen, serta baht Thailand (THB) turun 0,08 persen terhadap dolar AS.
Di kawasan Eropa, pergerakan mata uang juga tercatat campuran. Euro (EUR) dan pound sterling (GBP) masing-masing menguat 0,04 persen. Namun, franc Swiss (CHF) melemah 0,09 persen, diikuti krona Swedia (SEK) yang turun 0,09 persen dan krona Denmark (DKK) melemah 0,05 persen.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai tensi geopolitik global mulai mereda, tetapi tekanan domestik masih membayangi pergerakan rupiah.
Menurutnya, pasar saham domestik masih berada dalam tekanan akibat aksi jual investor sehingga membatasi ruang penguatan mata uang Garuda.
Pelaku pasar kini menanti hasil RDG Bank Indonesia yang akan diumumkan dalam waktu dekat. Bank sentral diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin guna menjaga stabilitas rupiah dan meredam tekanan di pasar keuangan.
Selain keputusan suku bunga, investor juga menantikan pernyataan resmi dari Bank Indonesia terkait prospek ekonomi nasional. Sikap yang lebih hawkish dari bank sentral dinilai dapat menjadi sentimen positif bagi rupiah dalam jangka pendek.
Sementara itu, Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyebut tekanan jual di pasar surat berharga negara (SBN) masih relatif terkendali.
Ia mengungkapkan pemerintah telah menyiapkan dana sekitar Rp2 triliun per hari untuk melakukan aksi buyback atau pembelian kembali SBN di pasar sekunder. Namun, realisasi penyerapan masih jauh di bawah target.
“Kemarin saya targetkan serap Rp2 triliun, tetapi hanya sekitar Rp600 miliar. Artinya, tekanan jual sebenarnya masih kecil sehingga harga obligasi tetap terkendali,” ujar Purbaya di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Berdasarkan data Kementerian Keuangan, hingga 24 April 2026 tercatat arus modal asing keluar (capital outflow) dari pasar SBN mencapai Rp20 triliun sejak awal tahun. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang terus membayangi stabilitas nilai tukar rupiah. (A02)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini