Info Market CPO
πŸ—“ Update: Kamis, 7 Mei 2026 |18:20 WIB |Volume: 0.5K β€’ 0.2K β€’ 1K β€’DMI β€’ LOCO PARINDU β€’ LOCO LUWU
HARGA CPO (WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K Β· DMI
15222 15200 (IMT) 15220 (AGM) 15350 - WD
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K Β· DMI
15222 15200 (IMT) 15220 (AGM) 15350 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K Β· LOCO PARINDU
14782 14455 (MNA) 14600 (PBI) 15000 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K Β· LOCO PARINDU
15100 14693 14800 15275 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 1K Β· LOCO LUWU
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • Harga relatif stabil pada transaksi DMI
  • Selisih harga antar bidder sangat tipis
  • Masih terdapat lokasi tanpa penawaran
πŸ‘₯Sumber: Internal Market CPO
Ekonomi & Bisnis

Tiket Pesawat Melonjak Jelang Lebaran, Kemenhub: Permintaan Meledak, Kursi Terbatas

tiket pesawat melonjak jelang lebaran, kemenhub: permintaan meledak, kursi terbatas
Ilustrasi. (Bloomberg)

Jakarta, Sinata.id – Lonjakan harga tiket pesawat menjelang Lebaran kembali memicu keluhan publik. Namun pemerintah punya penjelasan bukan semata permainan harga, melainkan dampak langsung dari ledakan permintaan yang tak sebanding dengan kapasitas penerbangan.

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengungkap, fenomena tiket mahal terjadi karena tingginya arus mudik udara yang melonjak tajam dalam waktu bersamaan, sementara jumlah kursi dan armada tidak bertambah signifikan.

Advertisement

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menegaskan, pola kenaikan harga tiket saat Lebaran adalah konsekuensi klasik hukum pasar: ketika permintaan melesat, harga ikut terdorong naik.

β€œBisa jadi harga tiket dipengaruhi oleh ketersediaan dan permintaan saat arus mudik Lebaran, permintaan kerap melonjak,” ujarnya.

Baca Juga  Tiket Pesawat Terancam Melonjak: Maskapai Eropa Siapkan Beban Baru ke Penumpang

Lonjakan ini bahkan disebut terjadi dalam waktu sangat singkat, ketika jutaan orang berburu tiket di periode yang sama.

Kondisi tersebut membuat harga tiket secara alami mendekati batas atas yang telah ditetapkan pemerintah.

Kemenhub juga menyoroti fenomena lain yang kerap menyesatkan persepsi publik: tiket mahal yang sebenarnya berasal dari rute tidak langsung.

Direktur Angkutan Udara Kemenhub, Agustinus Budi Hartono, menjelaskan bahwa banyak harga fantastis yang viral ternyata berasal dari penerbangan transit, bukan direct flight.

β€œRute yang ditawarkan ternyata dengan beberapa transit karena rute langsungnya sudah habis,” jelasnya, dikutip Kamis (19/3/2026)

Artinya, ketika penerbangan langsung penuh, sistem akan menampilkan alternatif perjalanan yang lebih panjang, dan otomatis lebih mahal.

Baca Juga  Sekelompok Wisatawan Mabuk di Pesawat, Penerbangan easyJet Ricuh, Penumpang Panik

Meski harga terasa melonjak, pemerintah menegaskan maskapai tidak bisa sembarangan menaikkan tarif. Semua harga tetap berada dalam koridor tarif batas atas (TBA) dan tarif batas bawah (TBB) yang telah diatur.

Selama tidak melampaui batas tersebut, kenaikan harga masih dianggap wajar secara regulasi.

β€œKalau masih dalam range TBA, berarti belum ada pelanggaran,” tegas Agustinus.

Untuk meredam lonjakan, pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah, mulai dari diskon tiket hingga 18 persen hingga pembukaan ribuan penerbangan tambahan.

Namun, kebijakan ini tetap bergantung pada kesiapan maskapai dan keseimbangan bisnis mereka.

Di sisi lain, pemerintah juga mengakui tidak bisa memaksa maskapai menambah penerbangan jika tidak menguntungkan secara operasional. [a46]

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini