Info Market CPO
🗓 Update: Senin, 11 Mei 2026 |15:20 WIB |Volume: 0.5K • 0.2K • 2.6K DMI • LOCO NGABANG • LOCO KEMBAYAN • LOCO PARINDU • FOB PALOPO
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15325 15217 (PAA) 15203 - EUP ACC
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15325 15217 (PAA) 15203 - EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO NGABANG
14975 14774 (MNA) 14550 (PBI) - EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO KEMBAYAN
14875 14624 (MNA) 14450 (PBI) - EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.5K · LOCO PARINDU
14885 14699 (MNA) 14550 (PBI) 14975 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 2.6K · FOB PALOPO
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP mendominasi pada transaksi DMI dan segmen LOCO
  • Persaingan harga masih cukup ketat antar bidder
  • Masih terdapat lokasi tanpa penawaran
👥Sumber: Internal Market CPO
Model
Nasional

Kemenkes: Belum Ada Bukti Penularan Hantavirus dari Tikus ke Manusia di Indonesia

kemenkes
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni. (Foto: Ist)

JAKARTA, Sinata.id  — Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memastikan hingga saat ini belum ditemukan bukti penularan hantavirus dari tikus ke manusia di Indonesia sejak virus tersebut pertama kali terdeteksi pada 1991.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, menjelaskan kasus hantavirus yang terjadi di kapal pesiar MV Hondius berbeda dengan tipe hantavirus yang selama ini ditemukan di Indonesia.

Advertisement

“HPS banyak ditemukan di Amerika Selatan dan belum pernah dilaporkan di Indonesia, baik pada manusia maupun tikus,” kata Andi di Jakarta, Senin (11/5/2026).

Indonesia Hanya Temukan Tipe HFRS

Menurut Andi, kasus hantavirus di Indonesia selama ini merupakan tipe Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome dengan strain Seoul virus.

Sementara kasus di kapal pesiar MV Hondius merupakan tipe Hantavirus Pulmonary Syndrome yang disebabkan strain Andes virus.

Ia menjelaskan, dalam sejumlah penelitian, Andes virus diketahui memiliki potensi penularan antarmanusia melalui kontak erat dan berkepanjangan.

Namun untuk tipe HFRS yang ditemukan di Asia dan Indonesia, hingga kini belum ada bukti penularan antarmanusia.

Kelompok Berisiko Tinggi

Kemenkes menjelaskan penularan hantavirus umumnya terjadi akibat kontak dengan tikus atau celurut melalui gigitan, urin, feses, maupun debu yang terkontaminasi.

Kelompok yang berisiko tinggi antara lain petugas kebersihan dan sampah, petani, pekerja bangunan lama, warga di daerah banjir, hingga masyarakat yang sering beraktivitas luar ruang seperti berkemah.

Sejak 2024 hingga 2026, Indonesia tercatat memiliki 23 kasus HFRS dan belum ditemukan kasus HPS.

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini