Info Market CPO
🗓 Update: Jumat, 8 Mei 2026 |15:34 WIB |Volume: 0.5K • 0.2K • 2.6K DMI • LOCO NGABANG • LOCO KEMBAYAN • LOCO PARINDU • FOB PALOPO
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15222 15200 (TON) 15131 (AGM) 15275 - WD
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15222 15100 (IMT/KJA) 15131 (AGM) 15275 KJA ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.5K · LOCO NGABANG
14782 14675 (MNA) 14500 (PBI) 14925 EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.5K · LOCO KEMBAYAN
14772 14525 (MNA) 14400 (PBI) 14825 EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14782 14600 (MNA) 14500 (PBI) 14925 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 2.6K · FOB PALOPO
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP masih mendominasi pada beberapa titik LOCO
  • Persaingan harga di DMI berlangsung ketat
  • Masih terdapat lokasi tanpa penawaran
👥Sumber: Internal Market CPO
Model
Sains & Teknologi

Penelitian Ungkap Dugaan Kaitan Badai Matahari dengan Gempa Bumi

penelitian ungkap dugaan kaitan badai matahari dengan gempa bumi
Ilustrasi badai matahari. (shutterstock)

Pematangsiantar, Sinata.id – Badai Matahari selama ini dikenal sebagai fenomena luar angkasa yang memengaruhi satelit dan sistem komunikasi di Bumi.

Namun, penelitian terbaru mengungkap kemungkinan adanya hubungan antara aktivitas Matahari dan gempa bumi.

Advertisement

Penelitian yang dilakukan tim ilmuwan dari Kyoto University menemukan indikasi bahwa gangguan ionosfer akibat badai Matahari berpotensi memengaruhi kestabilan kerak Bumi, khususnya pada zona patahan yang sudah berada dalam kondisi kritis.

Meski belum dapat membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung, penelitian tersebut membuka perspektif baru mengenai kemungkinan keterkaitan antara fenomena luar angkasa dan aktivitas geologi di Bumi.

Gangguan Ionosfer Diduga Pengaruhi Kerak Bumi

Dalam laporan yang dikutip dari Science Daily, Kamis (7/5/2026), para peneliti menjelaskan bahwa aktivitas Matahari seperti solar flare dapat memicu gangguan pada ionosfer, yaitu lapisan atmosfer atas yang bermuatan listrik.

Baca Juga  Fenomena Langit April 2026: Pink Moon, Komet, dan Hujan Meteor Lyrid

Gangguan tersebut diduga menciptakan efek elektrostatik yang mampu menembus hingga ke dalam kerak Bumi. Zona patahan yang retak dan mengandung fluida bersuhu tinggi disebut dapat bertindak seperti kapasitor raksasa secara elektrik.

Ketika kepadatan elektron di ionosfer meningkat, muncul tekanan elektrostatik di rongga-rongga batuan kerak Bumi. Tekanan ini diperkirakan mencapai beberapa megapascal, setara dengan gaya alam lain yang diketahui memengaruhi kestabilan patahan.

Anomali Ionosfer Sebelum Gempa

Penelitian juga menyoroti sejumlah anomali ionosfer yang kerap muncul sebelum gempa besar terjadi. Fenomena tersebut meliputi peningkatan kepadatan elektron, penurunan ketinggian ionosfer, hingga perlambatan gelombang gangguan ionosfer.

Selama ini, perubahan tersebut dianggap sebagai dampak dari tekanan yang meningkat di dalam kerak Bumi. Namun, studi terbaru mengusulkan kemungkinan hubungan dua arah, yakni ionosfer juga dapat memberikan pengaruh balik terhadap kondisi patahan di Bumi.

Baca Juga  Cimahi Tetapkan Status Waspada Sesar Lembang, Warganet Malah Soroti Gempa di Bekasi dan Karawang

Pendekatan ini dinilai membuka cara pandang baru bahwa gempa bumi tidak hanya dipicu dinamika internal planet, tetapi juga kemungkinan dipengaruhi faktor eksternal dari luar angkasa.

Belajar dari Gempa di Jepang

Para ilmuwan turut menyoroti sejumlah gempa besar di Jepang, termasuk gempa di Semenanjung Noto pada 2024 yang terjadi setelah periode aktivitas Matahari tinggi.

Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa kesamaan waktu tersebut belum bisa dijadikan bukti pasti adanya hubungan langsung antara badai Matahari dan gempa bumi.

Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memahami sejauh mana gangguan ionosfer dapat memengaruhi proses awal terjadinya gempa.

Ke depan, tim peneliti berencana menggabungkan teknologi tomografi ionosfer berbasis GNSS dengan data cuaca antariksa guna mempelajari hubungan tersebut secara lebih mendalam. (A02)

Baca Juga  YouTube Down Global 18 Februari 2026, Ratusan Ribu Pengguna Terdampak

 

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini