Jakarta, Sinata.id – Anggota jemaat Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), Ch. Robin Simanullang, mengirimkan surat terbuka kepada Ephorus HKBP, Pdt. Victor Tinambunan.
Surat tersebut berisi usulan strategis mengenai penulisan ulang dan pelurusan sejarah misionaris di Tanah Batak menuju narasi yang dinilai lebih jujur, adil, dan berpusat pada ajaran Kristus.
“Demi mendukung kerja tim agar menghasilkan karya yang substantif, jujur, dan terbebas dari bias narasi lama yang bernuansa kolonial, izinkan saya menyampaikan sejumlah dasar pertimbangan dan usulan,” ujar Ch. Robin Simanullang di Jakarta, Rabu (6/5/2026).
Penulis buku Hita Batak: A Cultural Strategy itu menilai penulisan ulang sejarah misionaris dapat menjadi momentum “pertobatan sejarah” bagi HKBP maupun gereja-gereja Batak lainnya.
Menurutnya, pengungkapan fakta sejarah secara jujur dan berimbang akan memperlihatkan HKBP sebagai gereja yang merdeka secara intelektual dan spiritual, sekaligus tetap memuliakan Tuhan melalui bahasa dan budaya Batak.
Enam Dasar Pertimbangan
Ketua Dewan Penasihat Perkumpulan Forum Jurnalis Batak (Forjuba) tersebut menguraikan enam poin utama sebagai dasar usulan penulisan ulang sejarah misionaris di Tanah Batak.
- Restorasi Fakta Misionaris Perintis
Robin menilai sejarah perlu mencatat secara objektif bahwa Ingwer Ludwig Nommensen bukan satu-satunya misionaris perintis di Tanah Batak.
Sebelum kedatangan Nommensen, sejumlah misionaris lain seperti Gerrit van Asselt, W.F. Betz, Dammerboer, J. Ph. D. Koster, Johann Carl Klemmer, dan Carl Wilhelm Heine disebut telah lebih dahulu melakukan pelayanan Injil dan membaptis masyarakat Batak melalui proses evangelisasi.
Menurutnya, mengabaikan peran mereka merupakan bentuk ketidakadilan sejarah.
- Dekolonisasi Narasi Sejarah
Robin juga menyoroti pentingnya memisahkan narasi misi keagamaan dari kolonialisme.
Ia menilai istilah Expeditio Sacra atau “Perang Suci” yang dikaitkan dengan kerja sama misi dan militer kolonial Belanda perlu ditempatkan dalam konteks sejarah yang objektif.
“Hal ini penting agar gereja tidak mewarisi narasi kolonial yang memandang budaya Batak secara negatif,” ujarnya.
- Pengakuan terhadap Literasi dan Budaya Batak
Dalam suratnya, Robin menegaskan bahwa masyarakat Batak bukanlah kelompok pasif ketika Injil masuk ke Tanah Batak.
Ia menyebut bangsa Batak telah memiliki aksara, tradisi literasi, sistem religi, dan nilai budaya yang kuat sehingga mampu menerima serta menyesuaikan ajaran baru secara kritis dan adaptif.
Menurutnya, perkembangan peradaban di Tanah Batak merupakan hasil perjumpaan antara Injil dan kesiapan budaya masyarakat Batak sendiri.

- Peran Tokoh Lokal dan Guru Jemaat
Robin menilai keberhasilan penyebaran Injil tidak terlepas dari kontribusi guru jemaat, sintua, tokoh adat, dan pelayan gereja lokal.
Mereka disebut menjadi penghubung penting dalam menerjemahkan ajaran Kristus ke dalam bahasa dan budaya Batak.
Ia juga mengingatkan agar sejarah gereja tidak hanya berfokus pada figur asing, melainkan turut menonjolkan kontribusi masyarakat Batak dalam membangun gerejanya sendiri.
- Koreksi Paradigma Teologis
Robin menilai publikasi yang terlalu menonjolkan satu tokoh misionaris berpotensi menimbulkan pengultusan individu.
Menurutnya, penulisan ulang sejarah harus menempatkan Kristus sebagai pusat gereja dan Roh Kudus sebagai penggerak utama perjalanan sejarah gereja.
- Merayakan Kemandirian HKBP
Ia juga menyoroti sejarah kemandirian HKBP sebagai gereja lokal di Nusantara.
Menurut Robin, HKBP telah mampu berdiri mandiri secara yuridis sejak 1930 dan secara faktual pada 1940, sebagai bagian dari perjalanan panjang gereja Batak melepaskan diri dari dominasi zending Eropa.
Surat Ditembuskan ke Berbagai Kalangan
Selain ditujukan kepada Ephorus HKBP, surat terbuka tersebut juga ditembuskan kepada para pendeta, pelayan gereja, majelis jemaat, cendekiawan HKBP, gereja-gereja Batak lainnya, hingga insan pers dan media.
Ketua Dewan Pembina DPP Forum Penulis dan Wartawan Indonesia (FPWI) itu berharap pembahasan sejarah misionaris dapat dilakukan secara terbuka, akademis, dan independen.
Usulan Substansi Penulisan Ulang
Dalam surat tersebut, Robin mengusulkan tiga poin utama terkait substansi penulisan ulang sejarah misionaris di Tanah Batak.
Pertama, penggunaan metodologi induktif yang mengutamakan dokumen primer dan manuskrip objektif.
Kedua, penguatan narasi inkulturasi dan jati diri Batak, yakni Injil hadir untuk melengkapi dan menguduskan nilai luhur budaya Batak seperti Dalihan Na Tolu.
Ketiga, perubahan pola visualisasi sejarah dari konsep “pahlawan tunggal” menjadi pengakuan kolektif terhadap para misionaris dan tokoh lokal Batak.
“Demikian usulan ini saya sampaikan dengan harapan tim yang dibentuk dapat bekerja secara independen demi kemuliaan Tuhan,” tutup Robin.
Sebelumnya, Robin Simanullang juga diketahui telah bertemu langsung dengan Ephorus HKBP Pdt. Victor Tinambunan di Sopo Marpingkir, Jakarta, pada 1 Mei 2026. Dalam pertemuan itu, ia menyampaikan pentingnya pelurusan sejarah misionaris dan mengapresiasi pembentukan Tim Sejarah Misionaris oleh HKBP. (SN22)









Jadilah yang pertama berkomentar di sini