Info Market CPO
🗓 Update: Selasa, 5 Mei 2026 |14:54 WIB |Volume: 0.5K • 0.3K • 0.2K DMI • LOCO NGABANG • LOCO PARINDU • LOCO KEMBAYAN • LOCO LUWU
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15625 15418 15400 - EUP ACC
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15625 15418 15400 - EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO NGABANG
15260 14693 14800 15275 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
15100 14693 14800 15275 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.3K · LOCO KEMBAYAN
15075 14693 14700 15175 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 0.5K · LOCO LUWU
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP mendominasi pada transaksi DMI
  • Segmen LOCO masih dalam tekanan harga
  • Belum ada transaksi pada beberapa titik lokasi
👥Sumber: Internal Market CPO
Advertisement
Model
Dunia

Sering Haus dan Lemas, Remaja Ini Ternyata Idap Sindrom Autoimun Langka

sering haus dan lemas, remaja ini ternyata idap sindrom autoimun langka
Gambar ilustrasi. ai

Washington, Sinata.id – Seorang remaja perempuan berusia 17 tahun di California, Amerika Serikat, harus menjalani perawatan darurat setelah mengalami muntah hebat selama sehari penuh.

Pemeriksaan medis kemudian mengungkap kondisi langka: tubuhnya mengalami gangguan autoimun yang menyerang dua sistem hormon sekaligus.

Advertisement

Berdasarkan laporan yang dipublikasikan dalam jurnal medis dan dikutip dari Live Science, pasien awalnya menunjukkan gejala yang umum ditemukan pada diabetes, seperti rasa haus berlebihan, sering buang air kecil, penurunan berat badan drastis, serta kelelahan.

Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar gula darah mencapai 453 mg/dL, jauh di atas nilai normal. Dokter pun menetapkan diagnosis diabetes tipe 1.

Namun, respons tubuh pasien terhadap terapi insulin tidak berjalan seperti yang diharapkan. Ia justru kerap mengalami hipoglikemia pada pagi hari, serta tetap mengalami frekuensi buang air kecil tinggi meski asupan cairan terbatas.

Baca Juga  Wow! Kado Natal Terindah: Warga Arkansas Menangi Lotre Senilai Rp 30,4 Triliun!

Selain itu, terdapat perubahan warna kulit yang mudah menggelap, yang menjadi petunjuk adanya gangguan hormonal lain.

Melihat kondisi tersebut, tim medis melakukan pemeriksaan lanjutan pada kelenjar adrenal. Hasilnya menunjukkan adanya kerusakan akibat serangan sistem imun, yang menyebabkan produksi hormon penting seperti kortisol dan aldosteron terganggu. Pasien kemudian didiagnosis menderita penyakit Addison.

Mengenal Syndrome Type 2

Kombinasi antara diabetes tipe 1 dan penyakit Addison mengarah pada diagnosis Autoimmune Polyendocrine Syndrome Type 2 (APS-2), sebuah sindrom langka yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang beberapa kelenjar endokrin sekaligus. Kondisi ini diperkirakan hanya terjadi pada sekitar 1,5 hingga 2 kasus per 100.000 orang.

Kasus ini tergolong tidak biasa karena kedua penyakit tersebut umumnya muncul dalam rentang waktu yang berbeda. Pada pasien ini, keduanya terdeteksi secara bersamaan saat pertama kali dirawat di rumah sakit.

Baca Juga  Arab Saudi Pimpin Kecaman Global atas Pelanggaran Gencatan Senjata di Gaza

Setelah mendapatkan terapi kombinasi berupa insulin untuk mengontrol kadar gula darah dan obat steroid untuk menggantikan fungsi hormon adrenal, kondisi pasien menunjukkan perbaikan signifikan dalam dua bulan. Berat badan mulai kembali, kadar gula darah menjadi lebih stabil, dan keseimbangan hormon berangsur pulih.

Meski demikian, pasien harus menjalani pengobatan jangka panjang untuk mengelola dua penyakit autoimun tersebut. Tim medis juga memberikan pendampingan psikologis guna membantu pasien menghadapi kondisi kronis yang dialaminya. (A58)

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini