New York, Sinata.id – Harga minyak dunia bergerak sangat fluktuatif dalam satu hari perdagangan. Sempat melonjak hingga 126,41 dolar AS per barel, harga minyak kemudian terkoreksi tajam saat penutupan.
Berdasarkan laporan Reuters, minyak mentah Brent yang sebelumnya mencapai level tertinggi sejak Maret 2022, ditutup turun 4,02 dolar AS atau 3,41 persen menjadi 114,01 dolar AS per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga melemah 1,81 dolar AS atau 1,69 persen ke level 105,07 dolar AS per barel, setelah sempat menyentuh 110,93 dolar AS per barel.
Analis PVM, Tamas Varga, menilai penurunan harga lebih disebabkan oleh tingginya volatilitas pasar sejak konflik Iran meningkat, bukan oleh satu faktor spesifik.
Menurutnya, kondisi pasar saat ini sangat sensitif terhadap perubahan situasi geopolitik, sehingga pergerakan harga dapat berubah drastis dalam waktu singkat.
Di balik fluktuasi harian tersebut, tekanan terhadap pasar energi global belum mereda. Kekhawatiran utama berasal dari potensi gangguan pasokan minyak, khususnya di Selat Hormuz, jalur distribusi energi paling vital di dunia.
Ketidakpastian ini membuat harga minyak tetap berada dalam tren naik selama empat bulan terakhir.
Ketegangan geopolitik semakin memperburuk kondisi pasar. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan tengah menerima pengarahan terkait kemungkinan rencana serangan militer baru terhadap Iran.
Di sisi lain, Iran memperingatkan akan melakukan “serangan panjang dan menyakitkan” jika terjadi eskalasi lanjutan, sekaligus menegaskan kendalinya atas Selat Hormuz.
Sejak konflik yang dimulai pada 28 Februari 2026, harga minyak Brent tercatat melonjak signifikan, sementara WTI naik sekitar 90 persen.
Analis SEB Research, Ole Hvalbye, menggambarkan kondisi pasar saat ini sebagai sangat ekstrem. Perubahan harga dalam satu hari bahkan bisa setara dengan pergerakan yang biasanya terjadi dalam beberapa bulan.
Kondisi ini membuat pelaku pasar kesulitan membaca arah pergerakan harga secara fundamental.
Data pelayaran menunjukkan penurunan signifikan aktivitas di Selat Hormuz. Dalam 24 jam terakhir, hanya sekitar tujuh kapal yang melintas, jauh di bawah kondisi normal yang mencapai 125 hingga 140 kapal per hari.
Analis IG, Tony Sycamore, menilai peluang meredanya konflik dalam waktu dekat masih kecil. Prospek normalisasi jalur distribusi energi pun dinilai belum terlihat.
Lonjakan harga minyak berpotensi memicu efek domino terhadap ekonomi global, mulai dari kenaikan biaya energi hingga tekanan inflasi di berbagai negara.
Selama konflik belum mereda dan distribusi energi global masih terganggu, volatilitas harga minyak diperkirakan akan terus berlanjut.
Pergerakan harga minyak saat ini tidak sekadar mencerminkan dinamika pasar, tetapi juga risiko besar yang merambat ke berbagai sektor ekonomi. Ketidakpastian geopolitik dan gangguan pasokan menjadi faktor utama yang akan terus menentukan arah harga ke depan. (A02)









Jadilah yang pertama berkomentar di sini