Canberra, Sinata.id — Maskapai asal Australia, Qantas, tengah mematangkan persiapan pengoperasian rute penerbangan langsung terlama di dunia yang menghubungkan Sydney dengan London dan New York. Rute ini ditargetkan mulai beroperasi pada awal 2027.
Rencana tersebut didukung dengan progres perakitan armada khusus Airbus A350-1000ULR di fasilitas Airbus di Toulouse, Prancis, yang telah memasuki tahap lanjutan pada April 2026.
Penerbangan tanpa transit yang diperkirakan memakan waktu hingga 22 jam ini dimungkinkan berkat modifikasi teknis pada varian Ultra Long Range (ULR). Pesawat dilengkapi tangki bahan bakar tambahan di bagian belakang tengah dengan kapasitas ekstra sekitar 20.000 liter.
Dengan peningkatan tersebut, armada dalam program Project Sunrise mampu menempuh jarak operasional hingga 18.500 kilometer. Untuk menjaga efisiensi dan bobot pesawat selama penerbangan jarak sangat jauh, kapasitas penumpang dibatasi menjadi sekitar 238 kursi.
Pihak Qantas menyebutkan bahwa seluruh komponen struktural utama pesawat telah terpasang, termasuk badan pesawat, sayap, ekor, roda pendaratan, serta mesin. Saat ini, pesawat akan memasuki fase pengujian intensif sebelum dioperasikan secara komersial.
Maskapai ini menilai, penggunaan armada generasi terbaru akan memangkas waktu perjalanan hingga empat jam karena penumpang tidak lagi perlu transit di kota-kota seperti Singapura atau kawasan Timur Tengah.
Dari sisi kenyamanan, Qantas menyiapkan berbagai inovasi di dalam kabin, termasuk area khusus bernama Wellbeing Zone yang ditempatkan di antara kabin ekonomi dan premium ekonomi. Fasilitas ini menyediakan ruang peregangan, panduan latihan ringan melalui layar, serta stasiun hidrasi dan makanan ringan.
CEO Qantas, Vanessa Hudson, mengisyaratkan bahwa harga tiket untuk rute ultra jarak jauh ini kemungkinan lebih tinggi dibandingkan penerbangan dengan transit, meski belum merinci angka pastinya.
Dari sisi teknologi, Airbus melakukan sejumlah peningkatan, termasuk penguatan roda pendaratan dan optimalisasi aerodinamika melalui penggunaan winglet yang lebih tinggi. Pesawat ini juga menggunakan mesin Rolls-Royce Trent XWB-97 yang diklaim lebih efisien hingga 25 persen dalam konsumsi bahan bakar dan emisi karbon dibandingkan generasi sebelumnya.
Program Project Sunrise merupakan ambisi jangka panjang Qantas untuk menghubungkan Australia dengan berbagai kota besar dunia tanpa perlu transit. Rute Sydney–London diperkirakan menempuh jarak sekitar 17.000 kilometer dengan durasi penerbangan lebih dari 20 jam.
Meski menawarkan efisiensi waktu perjalanan, tantangan utama tetap pada kenyamanan penumpang selama berada di udara hampir satu hari penuh. Untuk itu, desain kabin, pencahayaan, pola makan, serta kursi dirancang khusus guna mengurangi kelelahan dan dampak jet lag.
Selama ini, perjalanan dari Australia ke Eropa umumnya memerlukan satu kali transit di kota seperti Singapura, Dubai, Doha, atau Perth. Jika Project Sunrise berjalan sesuai rencana, rute nonstop ini akan menjadi terobosan baru dalam industri penerbangan global lebih lama di udara, tetapi lebih ringkas secara keseluruhan perjalanan. (A02)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini