Info Market CPO
🗓 Update: Kamis, 30 April 2026 |18:09 WIB |Volume: 0.5K • 0.3K • 0.2K •DMI • FOB TDUKU • LOCO PARINDU • LOCO KEMBAYAN • LOCO NGABANG • LOCO LUWU
HARGA CPO (WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15312 15225 (KJA) 15400 (AGM) 15450 - WD
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15312 15225 (KJA) 15205 15450 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.5K · FOB TDUKU
15112 (PRISCOLIN) 14995 (MM) 15000 (AGM) 15250 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14787 14490 (MNA) 14600 (PBI) 15100 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.3K · LOCO KEMBAYAN
14762 14490 (MNA) 14500 (PBI) 15000 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO NGABANG
14947 14490 (MNA) 14600 (PBI) 15100 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 0.5K · LOCO LUWU
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • Pasar cenderung melemah pada beberapa lokasi LOCO
  • Persaingan harga cukup ketat antar bidder
  • Masih terdapat beberapa grade tanpa penawaran
👥Sumber: Internal Market CPO
Advertisement
Model
News

Mudik Jalan Kaki Sambil Mendorong Gerobak Siomay, Masjid pun Jadi Oase

mudik jalan kaki sambil mendorong gerobak siomay, masjid pun jadi oase
Edi Rosidi (kiri) pemudik asal Pemalang saat singgah di Masjid Darunnajaa Purbalingga (Situs Kemenag)

Purbalingga, Sinata.id – Mudik selalu punya cara bercerita. Di antara deru kendaraan yang bergegas pulang, rindu menumpang di setiap roda, menuju satu tujuan yang sama: rumah.

Namun di Bojongsari, Purbalingga, Selasa (17/3/2026), ada kisah yang berjalan lebih pelan. Lebih sunyi. Dan lebih panjang.

Advertisement

Pak Edi Rosidi mendorong gerobak siomaynya di tepi jalan. Bukan sekadar berjualan, ia sedang pulang. Tujuannya Banyumudal, Moga, Kabupaten Pemalang. Dan ia memilih berjalan kaki.

Perjalanan itu bukan hanya soal jarak, tapi juga ketahanan. Dua hari dua malam ia tempuh dengan langkah sederhana. Ia berhenti berjalan, saat malam tiba. Saat pagi cerah menghampiri, ia kembali berjalan menuju rindu.

Dari Cilacap hingga Pemalang, sekitar 135 kilometer terbentang. Bagi sebagian orang, itu hanya hitungan jam. Bagi Pak Edi, itu adalah ratusan ribu langkah, dengan kaki yang mulai lecet dan tenaga yang kian menipis.

Baca Juga  Arus Balik Meningkat, Menhub Dudy Imbau Pemudik Prioritaskan Keselamatan

Saat memasuki wilayah Purbalingga, setelah sekitar 66 kilometer dilalui, tubuhnya meminta jeda. Di titik itulah, Masjid Daarunnajaa di Desa Gembong hadir. Bukan sekadar tempat ibadah, tetapi ruang singgah yang menenangkan.

Masjid ini menjadi bagian dari program Masjid Ramah Pemudik. Sebuah inisiatif yang membuka pintu bagi siapa saja yang kelelahan di perjalanan.

Pak Edi disambut tanpa banyak pertanyaan. Ia dipersilakan mandi, beristirahat, mengisi daya ponsel, dan menikmati makanan ringan yang tersedia.

“Alhamdulillah, pelayanannya ramah. Saya bisa mandi, istirahat, bahkan isi daya HP. Semua gratis,” ujarnya dengan wajah yang kembali segar.

Di tengah perjalanan panjang, hal-hal sederhana terasa begitu berarti. Terlebih saat tubuh mulai melemah.

Baca Juga  Tiket Pesawat Mudik Meledak, 1,7 Juta Kursi Ludes, Tiga Jalur Udara Ini Jadi Favorit Pemudik

“Perjalanannya cukup jauh. Malam saya istirahat seadanya. Kaki juga lecet, tapi masih bisa lanjut pelan-pelan,” tuturnya.

Bagi Pak Edi, masjid itu bukan sekadar tempat berhenti. Ia menjadi ruang pemulihan. Tempat lelah ditenangkan, sebelum langkah kembali dilanjutkan.

Program Masjid Ramah Pemudik yang digagas Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga memang dirancang untuk itu. Masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat pelayanan bagi para musafir.

Kepala KUA Kecamatan Bojongsari, Mutohir, menjelaskan bahwa Masjid Daarunnajaa telah disiapkan khusus untuk pemudik.

Fasilitasnya lengkap. Mulai dari tempat istirahat, kamar mandi, air minum, makanan ringan, hingga pengisian daya gawai. Semua disediakan demi kenyamanan mereka yang singgah.

Baca Juga  Pengusutan Pungli Parkir RS Vita Insani Tak Berhenti pada Kadishub Julham

Harapannya sederhana: agar para pemudik merasa aman dan diterima.

Lebih dari sekadar fasilitas, yang dihadirkan adalah rasa hangat. Masjid menjadi ruang terbuka, tanpa sekat. Siapa pun boleh datang, tanpa perlu menjelaskan asal-usulnya.

Setelah cukup beristirahat, Pak Edi kembali berdiri. Ia menggenggam gagang gerobaknya, memastikan semuanya siap.

Perjalanan masih panjang. Namun langkahnya kini terasa lebih ringan. Bukan karena jaraknya berkurang, melainkan karena tenaganya telah pulih. Semangatnya kembali terisi.

Gerobak siomay itu pun bergerak lagi—perlahan, tapi pasti. Dan di tengah perjalanan yang melelahkan itu, Masjid Daarunnajaa menjelma oase kecil. Tempat lelah berlabuh, sebelum rindu kembali melangkah menuju rumah. (A18)

Sumber: Situs Kemenag

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini