Purbalingga, Sinata.id – Mudik selalu punya cara bercerita. Di antara deru kendaraan yang bergegas pulang, rindu menumpang di setiap roda, menuju satu tujuan yang sama: rumah.
Namun di Bojongsari, Purbalingga, Selasa (17/3/2026), ada kisah yang berjalan lebih pelan. Lebih sunyi. Dan lebih panjang.
Pak Edi Rosidi mendorong gerobak siomaynya di tepi jalan. Bukan sekadar berjualan, ia sedang pulang. Tujuannya Banyumudal, Moga, Kabupaten Pemalang. Dan ia memilih berjalan kaki.
Perjalanan itu bukan hanya soal jarak, tapi juga ketahanan. Dua hari dua malam ia tempuh dengan langkah sederhana. Ia berhenti berjalan, saat malam tiba. Saat pagi cerah menghampiri, ia kembali berjalan menuju rindu.
Dari Cilacap hingga Pemalang, sekitar 135 kilometer terbentang. Bagi sebagian orang, itu hanya hitungan jam. Bagi Pak Edi, itu adalah ratusan ribu langkah, dengan kaki yang mulai lecet dan tenaga yang kian menipis.
Saat memasuki wilayah Purbalingga, setelah sekitar 66 kilometer dilalui, tubuhnya meminta jeda. Di titik itulah, Masjid Daarunnajaa di Desa Gembong hadir. Bukan sekadar tempat ibadah, tetapi ruang singgah yang menenangkan.
Masjid ini menjadi bagian dari program Masjid Ramah Pemudik. Sebuah inisiatif yang membuka pintu bagi siapa saja yang kelelahan di perjalanan.
Pak Edi disambut tanpa banyak pertanyaan. Ia dipersilakan mandi, beristirahat, mengisi daya ponsel, dan menikmati makanan ringan yang tersedia.
“Alhamdulillah, pelayanannya ramah. Saya bisa mandi, istirahat, bahkan isi daya HP. Semua gratis,” ujarnya dengan wajah yang kembali segar.
Di tengah perjalanan panjang, hal-hal sederhana terasa begitu berarti. Terlebih saat tubuh mulai melemah.
“Perjalanannya cukup jauh. Malam saya istirahat seadanya. Kaki juga lecet, tapi masih bisa lanjut pelan-pelan,” tuturnya.
Bagi Pak Edi, masjid itu bukan sekadar tempat berhenti. Ia menjadi ruang pemulihan. Tempat lelah ditenangkan, sebelum langkah kembali dilanjutkan.
Program Masjid Ramah Pemudik yang digagas Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga memang dirancang untuk itu. Masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat pelayanan bagi para musafir.
Kepala KUA Kecamatan Bojongsari, Mutohir, menjelaskan bahwa Masjid Daarunnajaa telah disiapkan khusus untuk pemudik.
Fasilitasnya lengkap. Mulai dari tempat istirahat, kamar mandi, air minum, makanan ringan, hingga pengisian daya gawai. Semua disediakan demi kenyamanan mereka yang singgah.
Harapannya sederhana: agar para pemudik merasa aman dan diterima.
Lebih dari sekadar fasilitas, yang dihadirkan adalah rasa hangat. Masjid menjadi ruang terbuka, tanpa sekat. Siapa pun boleh datang, tanpa perlu menjelaskan asal-usulnya.
Setelah cukup beristirahat, Pak Edi kembali berdiri. Ia menggenggam gagang gerobaknya, memastikan semuanya siap.
Perjalanan masih panjang. Namun langkahnya kini terasa lebih ringan. Bukan karena jaraknya berkurang, melainkan karena tenaganya telah pulih. Semangatnya kembali terisi.
Gerobak siomay itu pun bergerak lagi—perlahan, tapi pasti. Dan di tengah perjalanan yang melelahkan itu, Masjid Daarunnajaa menjelma oase kecil. Tempat lelah berlabuh, sebelum rindu kembali melangkah menuju rumah. (A18)
Sumber: Situs Kemenag







Jadilah yang pertama berkomentar di sini