Info Market CPO
🗓 Update: Senin, 4 Mei 2026 |15:05 WIB |Volume: 0.5K • 0.3K • 0.2K DMI • FOB TDUKU • LOCO PARINDU • LOCO KEMBAYAN • LOCO NGABANG • LOCO LUWU
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15400 15297 (PAA) 15300 (AGM) 15415 EUP ACC
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15400 15297 (PAA) 15300 (AGM) 15145 EUP ACC
N6 N4 (N6)
Vol: 0.5K · FOB TDUKU
15198 (PRISCOLIN) 15097 (PAA) 15100 (AGM) 15215 PRISCOLIN ACC
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14875 14589 (MNA) 14700 (PBI) 15065 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.3K · LOCO KEMBAYAN
14850 14589 (MNA) 14600 (PBI) 14965 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO NGABANG
15035 14589 (MNA) 14700 (PBI) 15065 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 0.5K · LOCO LUWU
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP mendominasi pada transaksi DMI
  • PRISCOLIN unggul pada FOB TDUKU
  • Segmen LOCO masih cenderung melemah dan belum merata
👥Sumber: Internal Market CPO
Advertisement
Model
Sains & Teknologi

BMKG: Cuaca Panas di Indonesia Bukan Heatwave, Ini Penyebabnya Jelang Lebaran 2026

bmkg: cuaca panas di indonesia bukan heatwave, ini penyebabnya jelang lebaran 2026
Ilustrasi cuaca panas. (gettyimages)

Pematangsiantar, Sinata.id – Sebagian besar wilayah Indonesia saat ini mengalami cuaca panas yang cukup menyengat, terutama pada siang hari.

Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa kondisi tersebut bukanlah fenomena gelombang panas (heatwave).

Advertisement

Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menjelaskan bahwa peningkatan suhu yang terjadi masih dalam kategori normal untuk wilayah tropis seperti Indonesia.

“Fenomena ini bukan gelombang panas, melainkan peningkatan suhu udara yang masih dalam batas wajar,” ujarnya, Selasa (17/3/2026).

Menurutnya, gelombang panas umumnya terjadi di wilayah subtropis dengan suhu sangat tinggi yang berlangsung selama beberapa hari berturut-turut. Sementara itu, di Indonesia, variasi suhu cenderung lebih stabil dan masih disertai pembentukan awan serta hujan.

Penyebab Cuaca Terasa Lebih Panas

BMKG menyebutkan bahwa periode Maret hingga Mei memang kerap ditandai dengan suhu udara yang terasa lebih panas. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain posisi matahari yang berada di sekitar garis khatulistiwa, berkurangnya tutupan awan, serta kondisi angin yang relatif lemah.

Baca Juga  Gempa Bitung M5,0, BMKG Catat 484 Gempa Susulan

Selain itu, fenomena urban heat island di wilayah perkotaan juga memperparah kondisi panas. Kawasan yang didominasi bangunan dan minim vegetasi cenderung menyimpan panas lebih lama, sehingga suhu terasa lebih gerah, terutama pada siang hingga sore hari.

Suhu Capai 37 Derajat Celsius

BMKG mencatat, pada periode 12–15 Maret 2026, suhu maksimum di sejumlah wilayah mencapai angka cukup tinggi, di antaranya Jawa Barat 37,2 derajat celsius, Kalimantan 36,4 derajat celsius, Banten 36,2 derajat celsius, dan Jawa Timur 35 derajat celsius.

Kondisi ini dipicu oleh pergeseran distribusi hujan ke wilayah Indonesia bagian timur, sehingga beberapa daerah mengalami tutupan awan yang lebih sedikit dan paparan radiasi matahari menjadi lebih optimal.

Baca Juga  Gempa M 7,6 Guncang Sulawesi Utara, Gelombang Tsunami Terdeteksi di Lima Wilayah

Potensi Hujan Masih Tinggi

Meski suhu terasa panas, BMKG menegaskan bahwa potensi hujan masih cukup tinggi, terutama pada siang hingga sore hari.

Pada periode 17–23 Maret 2026, cuaca di Indonesia diperkirakan didominasi hujan ringan hingga sedang. Namun, masyarakat perlu mewaspadai potensi hujan sedang hingga lebat di sejumlah wilayah, seperti:

Sumatera (Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, dan Lampung), Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.

Pengaruh Dinamika Atmosfer

BMKG menjelaskan bahwa kondisi cuaca di Indonesia dipengaruhi oleh berbagai dinamika atmosfer, baik skala global maupun regional. Beberapa di antaranya adalah fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin, serta gelombang Rossby ekuatorial.

Kombinasi fenomena tersebut meningkatkan pertumbuhan awan konvektif yang berpotensi memicu hujan, terutama di wilayah Indonesia bagian tengah hingga timur.

Baca Juga  Fenomena Kosmik Langka! Astronom Rekam Tabrakan Dua Planet 11.000 Tahun Cahaya dari Bumi

Selain itu, pola pertemuan dan perlambatan angin (konvergensi) yang terdeteksi di sejumlah wilayah turut memperbesar peluang terbentuknya awan hujan.

Cuaca Jelang Lebaran 2026

BMKG memperkirakan kondisi cuaca berawan hingga hujan dengan suhu yang tetap terasa panas masih akan berlangsung hingga periode Lebaran 2026.

Variasi cuaca diperkirakan terjadi di berbagai wilayah, sehingga masyarakat yang akan melakukan perjalanan mudik diimbau untuk terus memantau informasi cuaca terkini.

Imbauan untuk Masyarakat

BMKG mengingatkan masyarakat untuk menjaga kondisi tubuh di tengah cuaca panas dengan cara memperbanyak konsumsi air putih, mengurangi aktivitas di bawah sinar matahari langsung, menggunakan pelindung seperti topi atau payung, serta memantau informasi cuaca resmi dari BMKG.

Dengan kondisi atmosfer yang masih dinamis, kewaspadaan terhadap perubahan cuaca tetap diperlukan, terutama menjelang arus mudik Lebaran. (A02)

 

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini