Info Market CPO
🗓 Update: Senin, 4 Mei 2026 |15:05 WIB |Volume: 0.5K • 0.3K • 0.2K DMI • FOB TDUKU • LOCO PARINDU • LOCO KEMBAYAN • LOCO NGABANG • LOCO LUWU
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15400 15297 (PAA) 15300 (AGM) 15415 EUP ACC
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15400 15297 (PAA) 15300 (AGM) 15145 EUP ACC
N6 N4 (N6)
Vol: 0.5K · FOB TDUKU
15198 (PRISCOLIN) 15097 (PAA) 15100 (AGM) 15215 PRISCOLIN ACC
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14875 14589 (MNA) 14700 (PBI) 15065 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.3K · LOCO KEMBAYAN
14850 14589 (MNA) 14600 (PBI) 14965 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO NGABANG
15035 14589 (MNA) 14700 (PBI) 15065 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 0.5K · LOCO LUWU
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP mendominasi pada transaksi DMI
  • PRISCOLIN unggul pada FOB TDUKU
  • Segmen LOCO masih cenderung melemah dan belum merata
👥Sumber: Internal Market CPO
Advertisement
Model
Sains & Teknologi

Fenomena Kosmik Langka! Astronom Rekam Tabrakan Dua Planet 11.000 Tahun Cahaya dari Bumi

fenomena kosmik langka! astronom rekam tabrakan dua planet 11.000 tahun cahaya dari bumi
Planet bertabraka. (andytzanidakis)

Jakarta, Sinata.id  – Para astronom berhasil mengungkap sebuah peristiwa kosmik langka berupa tabrakan dahsyat antara dua planet di sebuah sistem bintang yang berjarak sekitar 11.000 tahun cahaya dari Bumi.

Peristiwa ini terdeteksi melalui perubahan cahaya tidak biasa dari sebuah bintang bernama Gaia20ehk di konstelasi Puppis.

Advertisement

Penemuan ini bermula ketika Anastasios Tzanidakis, kandidat doktor astronomi dari University of Washington, meninjau data pengamatan teleskop yang dikumpulkan sejak 2020. Saat menganalisis data tersebut, ia menemukan perilaku aneh pada bintang yang seharusnya stabil seperti Matahari.

Menurut Tzanidakis, cahaya dari bintang tersebut awalnya stabil. Namun sejak 2016, kecerahannya tercatat mengalami tiga kali penurunan drastis. Kondisi itu semakin ekstrem pada 2021 ketika perubahan cahaya terjadi secara tidak wajar.

“Bintang seperti Matahari biasanya tidak menunjukkan perilaku seperti ini. Ketika kami melihat data tersebut, kami langsung bertanya-tanya apa yang sebenarnya sedang terjadi,” ujar Tzanidakis, dikutip dari ScienceDaily, Minggu (15/3/2026).

Baca Juga  Komet C/2026 A1 (MAPS) Dekati Matahari, Saksikan Fenomena Langit Spektakuler

Bukti Tabrakan Dua Planet

Setelah melakukan berbagai analisis, para peneliti menyimpulkan bahwa perubahan cahaya tersebut bukan berasal dari bintang itu sendiri. Penurunan kecerahan terjadi karena awan batu dan debu dalam jumlah besar melintas di depan bintang saat mengorbit sistem tersebut, sehingga menghalangi cahaya yang menuju Bumi.

Awan puing itu diyakini merupakan sisa dari tabrakan dahsyat antara dua planet di sistem tersebut.

“Sangat menakjubkan karena berbagai teleskop mampu menangkap peristiwa ini secara hampir real time. Kasus tabrakan planet yang tercatat sebelumnya sangat sedikit dan jarang memiliki kemiripan dengan proses yang diduga membentuk Bumi dan Bulan,” jelas Tzanidakis.

Hasil penelitian tim tersebut telah dipublikasikan pada 11 Maret 2026 dalam jurnal ilmiah The Astrophysical Journal Letters melalui artikel berjudul Gaia-GIC-1: An Evolving Catastrophic Planetesimal Collision Candidate.

Sinyal Inframerah Ungkap Puing Superpanas

Baca Juga  Fakta Hujan Meteor Lyrid April 2026 dan Waktu Terbaik Melihatnya

Penjelasan lebih lanjut muncul setelah James Davenport, asisten profesor riset astronomi di University of Washington, menyarankan untuk memeriksa data pengamatan dalam spektrum inframerah.

Hasilnya menunjukkan pola yang berlawanan dengan cahaya tampak. Ketika cahaya tampak dari bintang meredup dan berkedip tidak stabil, sinyal inframerah justru meningkat tajam.

Fenomena ini menunjukkan bahwa materi yang menghalangi cahaya bintang memiliki suhu sangat tinggi sehingga memancarkan radiasi inframerah.

Para peneliti meyakini panas ekstrem tersebut dihasilkan oleh tabrakan besar antarplanet. Awan puing yang terbentuk diperkirakan mengorbit bintang pada jarak sekitar satu satuan astronomi setara dengan jarak antara Bumi dan Matahari.

Kondisi ini membuat para ilmuwan menduga peristiwa tersebut mirip dengan tabrakan raksasa yang dipercaya terjadi sekitar 4,5 miliar tahun lalu ketika sebuah objek seukuran planet bernama Theia menabrak Bumi muda dan kemudian membentuk Bulan.

Teleskop Masa Depan Diperkirakan Temukan Lebih Banyak Kasus

Baca Juga  2,86 Miliar Kredensial Bocor di 2026, Ini Modus Peretasan yang Wajib Diwaspadai

Davenport menilai penelitian ini unik karena memanfaatkan data pengamatan yang dikumpulkan selama puluhan tahun untuk mengungkap fenomena yang berlangsung secara perlahan.

Menurutnya, pendekatan semacam ini membuka peluang bagi penemuan besar lainnya di bidang astronomi.

Ke depan, teleskop generasi baru seperti Vera C. Rubin Observatory, khususnya Teleskop Survei Simonyi, diperkirakan mampu mendeteksi lebih banyak peristiwa serupa.

Para ilmuwan memperkirakan observatorium tersebut dapat menemukan hingga 100 tabrakan planet dalam satu dekade mendatang.

“Pertanyaan mendasar dalam astrobiologi adalah seberapa langka peristiwa yang dapat menghasilkan planet seperti Bumi dan Bulan,” kata Davenport.

Ia menambahkan bahwa keberadaan Bulan kemungkinan menjadi salah satu faktor penting yang membuat Bumi memiliki kondisi ideal bagi kehidupan.

“Jika kita dapat menemukan lebih banyak tabrakan planet seperti ini, kita akan mulai memahami bagaimana sistem planet terbentuk dan berevolusi,” pungkasnya. (A02)

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini