Pematangsiantar, Sinata.id – Sebagian besar wilayah Indonesia saat ini mengalami cuaca panas yang cukup menyengat, terutama pada siang hari.
Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa kondisi tersebut bukanlah fenomena gelombang panas (heatwave).
Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menjelaskan bahwa peningkatan suhu yang terjadi masih dalam kategori normal untuk wilayah tropis seperti Indonesia.
“Fenomena ini bukan gelombang panas, melainkan peningkatan suhu udara yang masih dalam batas wajar,” ujarnya, Selasa (17/3/2026).
Menurutnya, gelombang panas umumnya terjadi di wilayah subtropis dengan suhu sangat tinggi yang berlangsung selama beberapa hari berturut-turut. Sementara itu, di Indonesia, variasi suhu cenderung lebih stabil dan masih disertai pembentukan awan serta hujan.
Penyebab Cuaca Terasa Lebih Panas
BMKG menyebutkan bahwa periode Maret hingga Mei memang kerap ditandai dengan suhu udara yang terasa lebih panas. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain posisi matahari yang berada di sekitar garis khatulistiwa, berkurangnya tutupan awan, serta kondisi angin yang relatif lemah.
Selain itu, fenomena urban heat island di wilayah perkotaan juga memperparah kondisi panas. Kawasan yang didominasi bangunan dan minim vegetasi cenderung menyimpan panas lebih lama, sehingga suhu terasa lebih gerah, terutama pada siang hingga sore hari.
Suhu Capai 37 Derajat Celsius
BMKG mencatat, pada periode 12–15 Maret 2026, suhu maksimum di sejumlah wilayah mencapai angka cukup tinggi, di antaranya Jawa Barat 37,2 derajat celsius, Kalimantan 36,4 derajat celsius, Banten 36,2 derajat celsius, dan Jawa Timur 35 derajat celsius.
Kondisi ini dipicu oleh pergeseran distribusi hujan ke wilayah Indonesia bagian timur, sehingga beberapa daerah mengalami tutupan awan yang lebih sedikit dan paparan radiasi matahari menjadi lebih optimal.
Potensi Hujan Masih Tinggi
Meski suhu terasa panas, BMKG menegaskan bahwa potensi hujan masih cukup tinggi, terutama pada siang hingga sore hari.
Pada periode 17–23 Maret 2026, cuaca di Indonesia diperkirakan didominasi hujan ringan hingga sedang. Namun, masyarakat perlu mewaspadai potensi hujan sedang hingga lebat di sejumlah wilayah, seperti:
Sumatera (Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, dan Lampung), Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
Pengaruh Dinamika Atmosfer
BMKG menjelaskan bahwa kondisi cuaca di Indonesia dipengaruhi oleh berbagai dinamika atmosfer, baik skala global maupun regional. Beberapa di antaranya adalah fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin, serta gelombang Rossby ekuatorial.
Kombinasi fenomena tersebut meningkatkan pertumbuhan awan konvektif yang berpotensi memicu hujan, terutama di wilayah Indonesia bagian tengah hingga timur.
Selain itu, pola pertemuan dan perlambatan angin (konvergensi) yang terdeteksi di sejumlah wilayah turut memperbesar peluang terbentuknya awan hujan.
Cuaca Jelang Lebaran 2026
BMKG memperkirakan kondisi cuaca berawan hingga hujan dengan suhu yang tetap terasa panas masih akan berlangsung hingga periode Lebaran 2026.
Variasi cuaca diperkirakan terjadi di berbagai wilayah, sehingga masyarakat yang akan melakukan perjalanan mudik diimbau untuk terus memantau informasi cuaca terkini.
Imbauan untuk Masyarakat
BMKG mengingatkan masyarakat untuk menjaga kondisi tubuh di tengah cuaca panas dengan cara memperbanyak konsumsi air putih, mengurangi aktivitas di bawah sinar matahari langsung, menggunakan pelindung seperti topi atau payung, serta memantau informasi cuaca resmi dari BMKG.
Dengan kondisi atmosfer yang masih dinamis, kewaspadaan terhadap perubahan cuaca tetap diperlukan, terutama menjelang arus mudik Lebaran. (A02)









Jadilah yang pertama berkomentar di sini