Jakarta, Sinata.id — Pasokan minyak global kini berada di titik kritis, sementara harga minyak utama Amerika Serikat mencetak rekor baru yang mengejutkan pelaku pasar dunia. Gejolak geopolitik di kawasan Timur Tengah terus mempersempit aliran energi, membuat pantauan pasar energi internasional semakin intensif. Penyebabnya adalah konflik bersenjata yang semakin meluas di wilayah tersebut, sebuah realitas yang memicu kekhawatiran serius akan gangguan pasokan minyak mentah global dalam jangka pendek hingga menengah.
Pukul 10:00 pagi waktu setempat, harga minyak mentah dunia kembali melonjak tajam. Brent crude, acuan global, naik lebih dari US$2,6 per barel mencapai US$84,07, level tertinggi sejak awal 2025, sedangkan minyak West Texas Intermediate (WTI) AS melompat ke US$76,80 per barel, mencetak harga tertinggi sejak pertengahan tahun lalu. Lonjakan ini terjadi di tengah gangguan pasokan yang semakin parah di Timur Tengah.
Sejak awal konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Israel meluas ke wilayah Iran, termasuk serangkaian serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk, rute penting seperti Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20% minyak mentah dunia, mulai menghadapi penutupan informal akibat ancaman serangan dan risiko tinggi bagi kapal tanker.
Baca Juga: Rupiah Tertekan di Awal Maret: Ketidakpastian Global Masih Jadi Momok
Analis pasar dari OANDA, Kelvin Wong, mengungkapkan bahwa “konflik AS-Iran merupakan pendorong utama kenaikan harga minyak dalam jangka pendek.” Pernyataan ini menegaskan bahwa risiko geopolitik kini menjadi faktor dominan dalam menentukan arah harga minyak mentah, terutama ketika gangguan pasokan benar-benar terjadi di rute distribusi utama global tersebut.
Gangguan pasokan tidak hanya menekan harga, tetapi juga menciptakan kekacauan logistik global. Beberapa negara penghasil minyak besar di kawasan Teluk telah memperlambat atau bahkan menghentikan pengiriman. Irak, misalnya, dilaporkan memangkas produksi hampir setengahnya karena ketidakmampuan mengekspor melalui jalur laut utama. Sementara itu, serangan terhadap kapal tanker telah membuat banyak perusahaan pelayaran menunda operasi di daerah tersebut demi keamanan.
Lonjakan harga minyak mentah berdampak tak hanya pada sektor energi, tetapi juga terhadap biaya transportasi, harga bahan bakar ritel, hingga inflasi di berbagai negara konsumen besar minyak seperti China, India, Eropa dan Indonesia. Bahkan beberapa negara kini mempertimbangkan diversifikasi sumber pasokan minyak agar tidak sepenuhnya bergantung pada rantai pasokan yang rentan di kawasan konflik.
Para analis global memperingatkan bahwa tanpa tanda-tanda de-eskalasi yang jelas, pasar energi dunia akan terus mengalami volatilitas, dengan kemungkinan harga minyak mentah tetap tinggi atau bahkan menyentuh level psikologis baru dalam beberapa pekan mendatang. Risiko ini menandai tantangan besar bagi perekonomian dunia di tengah upaya pemulihan pascapandemi dan tuntutan stabilitas harga energi. [a46]









Jadilah yang pertama berkomentar di sini