Jakarta, Sinata.id — Tengah menguatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah mendorong pemerintah Indonesia mengambil langkah antisipatif serius terhadap calon jemaah umrah. Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) secara resmi mengimbau seluruh jamaah yang sudah menjadwalkan keberangkatan dalam waktu dekat untuk menunda perjalanan mereka demi memastikan keselamatan dan keamanan di luar negeri.
Pernyataan itu disampaikan langsung oleh Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, dari Jakarta pada hari Minggu. Langkah tersebut dilatarbelakangi eskalasi konflik yang semakin dinamis di kawasan Teluk, termasuk penutupan ruang udara oleh sejumlah negara dan penyesuaian jadwal penerbangan ke Arab Saudi.
Baca Juga: Indonesia Siap Saksikan Gerhana Bulan 3 Maret, Umat Diminta Perkuat Ibadah
“Mempertimbangkan kondisi Timur Tengah yang tidak menentu dan eskalasinya semakin tinggi, kami mengimbau jemaah umrah yang akan berangkat dalam waktu dekat untuk menunda keberangkatannya,” ujar Dahnil kepada pers di Jakarta.
Mengapa Penundaan Ini Diberlakukan?
Keputusan ini muncul setelah sejumlah negara di kawasan mencabut atau menutup sementara ruang udara mereka sebagai respons atas meningkatnya ketegangan militer di wilayah tersebut. Kondisi ini otomatis berpengaruh pada operasional penerbangan internasional, termasuk rute dari dan menuju Arab Saudi — pusat tujuan ibadah umrah.
Pemerintah melalui Kemenhaj juga menegaskan bahwa mereka sedang memantau secara intensif keberadaan ratusan ribu jemaah yang saat ini berada di Arab Saudi. Berdasarkan data pemerintah, sekitar 58.873 jemaah umrah asal Indonesia saat ini berada di Tanah Suci dan terus berada di bawah pengawasan ketat.
Jemaah di Arab Saudi diminta Tenang
Selain imbauan penundaan kepada calon jemaah di Indonesia, pemerintah juga meminta agar jemaah yang sudah berada di Arab Saudi tetap tenang, tidak panik, dan berkoordinasi dengan Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) atau perwakilan setempat. Pemantauan situasi dilakukan melalui Sistem Komputerisasi Pengelolaan Umrah dan Haji Khusus (SISKOPATUH) untuk memastikan seluruh jamaah terdata secara real time.
Pemerintah juga menjalin komunikasi intensif dengan maskapai penerbangan, otoritas Saudi, serta perwakilan Indonesia di Riyadh dan Jeddah untuk menangani calon jemaah yang terpaksa mengalami perubahan rencana atau penundaan kepulangan akibat gangguan jadwal.
Jangan Terpancing Informasi Tidak Akurat
Wamenhaj menekankan pentingnya masyarakat mengikuti informasi resmi dari pemerintah dan tidak terpancing hoaks atau spekulasi yang dapat memicu keresahan publik. “Pastikan status penerbangan secara berkala dan selalu merujuk pada saluran resmi pemerintah,” ujar pernyataan Kemenhaj dalam himbauannya.
Terlepas dari dinamika situasi umrah, Kemenhaj memastikan persiapan penyelenggaraan ibadah haji 1447 H/2026 M tetap berjalan sesuai jadwal, tanpa gangguan berarti dari kondisi saat ini. [a46]










Jadilah yang pertama berkomentar di sini