Jenewa, Sinata.id — Ketegangan diplomatik dunia memasuki babak baru di tengah pertemuan yang melibatkan Amerika Serikat, Rusia, dan China di Jenewa, membahas pengendalian senjata nuklir setelah runtuhnya perjanjian yang selama puluhan tahun menjadi batasan utama pembatasan hulu ledak strategis. Diskusi yang tengah berlangsung ini berpotensi mengubah arah perjanjian global yang mengatur senjata paling mematikan di dunia.
Perundingan yang dimulai pada Senin (23/2/2026) itu mempertemukan delegasi AS dan Rusia, dan direncanakan dilanjutkan dengan perwakilan China selanjutnya. Tujuan utama pertemuan ini adalah mengeksplorasi kemungkinan pembentukan perjanjian pengendalian senjata nuklir baru secara multilateral, yang mencakup tiga kekuatan besar nuklir dunia.
Baca Juga: Arab Saudi dan Koalisi Internasional Termasuk Indonesia Desak Israel Hentikan Ekspansi Tepi Barat
Pertemuan di Jenewa ini terjadi setelah berakhirnya perjanjian New START pada 5 Februari 2026, yang sebelumnya membatasi jumlah hulu ledak dan sistem peluncuran Amerika Serikat dan Rusia. Keputusan tersebut membuka peluang sekaligus kekhawatiran di komunitas internasional terkait perlombaan senjata baru.
Seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri AS yang enggan disebutkan namanya mengatakan bahwa dialog di Jenewa jauh lebih “mendalam dan substansial” daripada pertemuan awal yang sebelumnya dilaksanakan di Washington. Menurutnya, pertemuan ini adalah langkah krusial untuk menangani tantangan kontrol senjata nuklir di era pasca‑New START.
Dalam konteks ini, Washington juga tengah memicu kontroversi dengan menuduh China telah melakukan uji nuklir rahasia pada 2020, klaim yang keras dibantah oleh Beijing sebagai tuduhan yang “tidak berdasar” dan hanya merupakan alat politik untuk mendorong agenda diplomatik AS sendiri.
China begitu jauh menyatakan bahwa keterlibatannya dalam perundingan trilateral dengan AS dan Rusia pada tahap ini masih belum memungkinkan, mengingat perbedaan pandangan dalam pendekatan pengendalian senjata. Namun, pertemuan di Jenewa tetap dilihat sebagai upaya awal dalam menjembatani perbedaan tersebut.
Para analis internasional menilai bahwa ketiadaan kerangka hukum yang kuat untuk mengatur senjata nuklir setelah berakhirnya New START bisa berpotensi mendorong persaingan senjata baru. Selama ini, perjanjian pengendalian seperti New START telah berperan penting dalam menjaga stabilitas strategis global selama puluhan tahun.
Rusia dan Amerika Serikat sendiri sama‑sama memiliki ribuan hulu ledak nuklir, sementara China sedang mempercepat pengembangan kapabilitas nuklirnya, meskipun jumlahnya masih lebih kecil dibanding dua kekuatan lainnya. Perbedaan ini menjadi salah satu alasan utama mengapa Beijing masih menolak keterlibatan formal dalam pembicaraan kontrol senjata baru. [a46]










Jadilah yang pertama berkomentar di sini