Jakarta, Sinata.id – Langit musim dingin New York menjadi saksi rangkaian diplomasi penting yang dijalani Menteri Luar Negeri RI, Sugiono.
Dalam kunjungan singkat namun sarat makna, Sugiono bertemu dua tokoh kunci, yakni, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres dan Wakil Tetap Palestina untuk PBB Riyad Mansour.
Dari Markas Besar PBB hingga Kantor Perwakilan Palestina, Sugiono membawa satu pesan: Indonesia ingin berada di garis depan diplomasi damai untuk Palestina.
Mengikat Peran Indonesia di Board of Peace
Salah satu topik utama yang mengemuka adalah posisi Indonesia dalam Board of Peace (BoP), dewan perdamaian yang digagas Presiden AS Donald Trump.
Indonesia resmi menjadi anggota BoP sejak penandatanganan piagam di Swiss, Januari 2026. Dewan ini dibentuk untuk mengawasi transisi Gaza pascakonflik—mulai dari stabilisasi, administrasi, hingga rekonstruksi—sebagai bagian dari Comprehensive Plan to End the Gaza Conflict yang juga mendapat dukungan Dewan Keamanan PBB melalui Resolusi 2803 (2025).
Di hadapan Guterres, Sugiono menegaskan bahwa langkah Indonesia tidak keluar dari rel Piagam PBB.
“Posisi kami jelas: keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace sepenuhnya dipandu oleh Piagam PBB, visi Solusi Dua Negara, serta Resolusi DK PBB 2803 (2025),” tegas Sugiono.
Menurutnya, partisipasi Indonesia adalah bentuk komitmen mendorong perdamaian yang adil dan berkelanjutan, sekaligus memastikan BoP berjalan selaras dengan inisiatif PBB yang sudah ada.
Dari Gaza hingga Washington
Dalam pertemuan itu, Sugiono juga menyampaikan rencana kehadiran Presiden Prabowo Subianto di Washington D.C. pada 19 Februari 2026 untuk menghadiri KTT BoP.
Prabowo, yang telah tiba di Amerika Serikat, dijadwalkan mengikuti sejumlah agenda penting, seperti pertemuan bilateral dengan Trump, penandatanganan kesepakatan tarif resiprokal, serta forum puncak BoP bersama para pemimpin dunia.
Guterres menyambut baik langkah Indonesia dan memuji konsistensi dukungan Jakarta terhadap penyelesaian damai Palestina. Ia juga menyampaikan keprihatinannya atas kondisi di Tepi Barat yang dinilai melanggar hukum internasional.
Bagi Guterres, Indonesia—sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar—memiliki peran strategis untuk mendorong kerja sama konstruktif dalam BoP.
Suara Solidaritas di Kantor Palestina
Masih di hari yang sama, Sugiono melanjutkan diplomasi dengan menemui Riyad Mansour. Pertemuan ini berlangsung menjelang Sidang Dewan Keamanan PBB tentang situasi Timur Tengah.
Kepada Mansour, Sugiono menyampaikan kesiapan Indonesia untuk melangkah lebih jauh, termasuk kemungkinan mengirim pasukan penjaga perdamaian ke Gaza.
“Kami siap berkontribusi lebih jauh, termasuk mempersiapkan kemungkinan pengerahan pasukan penjaga perdamaian ke Gaza, yang dapat diawali dengan bantuan kesehatan dan rekonstruksi,” ujar Sugiono.
Keduanya juga membahas implementasi Resolusi 2803 (2025), khususnya terkait pembentukan BoP dan rencana pengerahan International Stabilization Force di Gaza.
Jejak Sejarah, Harapan Masa Depan
Sugiono menegaskan bahwa dukungan Indonesia terhadap Palestina bukan sekadar sikap politik, melainkan amanat sejarah—sejak Dasasila Bandung 1955 hingga kini.
Mansour pun menyampaikan apresiasi mendalam atas kehadiran langsung Sugiono. Baginya, Indonesia memiliki tempat khusus di hati rakyat Palestina karena konsistensi solidaritas yang tak pernah pudar.
Di tengah kompleksitas geopolitik global, langkah Sugiono di New York menjadi pengingat: diplomasi bukan sekadar pertemuan, tetapi jembatan harapan menuju perdamaian yang lebih adil. (Kemenlu/A18)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini