Jakarta, Sinata.id – Di balik tawa polos anak-anak Indonesia, kini terselip ancaman sunyi yang semakin nyata, seiring dengan diabetes yang tak lagi mengenal usia.
Saat ini, hal itu menjadi sorotan utama Ketua Badan Aspirasi Masyarakat (BAM) DPR RI, Ahmad Heryawan. Ia mengungkap fakta mengejutkan, bahwa anak-anak berusia 6 hingga 10 tahun sudah harus menjalani cuci darah akibat komplikasi diabetes. Sebuah gambaran suram yang menurutnya mengancam masa depan generasi bangsa.
Peringatan keras itu disampaikan Ahmad Heryawan usai Rapat Dengar Pendapat (RDP) BAM DPR RI bersama Forum Warga Kota Indonesia (FAKTA) dan Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (11/2/2026).
Dalam pertemuan tersebut, isu konsumsi gula berlebih—khususnya dari minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK)—menjadi sorotan utama.
“Kami mengapresiasi FAKTA dan CISDI yang datang membawa kegelisahan masyarakat. Percepatan regulasi terhadap minuman berpemanis sudah sangat mendesak, karena dampaknya kini sudah sampai pada anak-anak kita,” ujar Heryawan, yang akrab disapa Aher.
Ia menuturkan, diabetes tipe 2 yang dulu identik dengan usia lanjut, kini telah bergeser menjadi ancaman lintas generasi. Jika dahulu penyakit ini lazim menyerang mereka yang berusia di atas 50 tahun, kini anak-anak pun tak luput dari risikonya.
“Sekarang bukan lagi soal usia 50 atau 60 tahun. Anak usia 10 tahun sudah menderita diabetes, bahkan yang lebih menyedihkan, ada anak di bawah 10 tahun yang mengalami gagal ginjal. Bayangkan, anak 6 tahun harus menjalani cuci darah berjam-jam demi bertahan hidup,” ungkap Legislator Fraksi PKS itu dengan nada prihatin.
Menurut Aher, situasi ini adalah alarm keras bagi semua pihak. Konsumsi gula yang berlebihan, terutama dari MBDK, dinilai sebagai salah satu pemicu utama. Karena itu, BAM DPR RI memandang kebijakan fiskal berupa cukai minuman berpemanis sebagai langkah strategis untuk menekan laju konsumsi gula di masyarakat.
“Regulasi adalah kunci. Dengan cukai, harga akan meningkat sehingga konsumsi dapat ditekan. Di sisi lain, industri juga akan terdorong untuk menurunkan kadar gula dalam produknya,” jelasnya.
Ia menambahkan, penerimaan negara dari cukai tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperkuat program kesehatan masyarakat, khususnya dalam pencegahan penyakit tidak menular seperti diabetes, obesitas, dan penyakit jantung.
Meski pengaturan kadar gula melalui pengawasan ketat juga penting, Aher menilai kebijakan cukai merupakan langkah paling cepat dengan dampak yang luas.
“Yang berbahaya itu adalah berlebihan. Saat ini, konsumsi gula kita sudah jauh melampaui batas wajar, dan itu harus segera dikendalikan,” tegasnya.
Menutup pernyataannya, Aher mengajak masyarakat untuk mulai lebih sadar akan pola hidup sehat. Baginya, masa depan bangsa sangat bergantung pada generasi yang sehat dan terdidik.
“Kesejahteraan hanya bisa tercapai jika masyarakatnya sehat. Dan langkah sederhana yang bisa kita mulai hari ini adalah mengurangi konsumsi gula,” pungkasnya. (A18)
Sumber: Parlementaria









Jadilah yang pertama berkomentar di sini