Florida, Sinata.id – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa pemerintahannya tengah menjalin komunikasi dengan pimpinan Kuba untuk mencapai sebuah kesepakatan.
Pernyataan itu disampaikan pada Minggu (1/2/2026), hanya beberapa hari setelah Trump mengancam perekonomian Kuba dengan kebijakan yang disebut sebagai blokade minyak.
Berbicara kepada wartawan di resor pribadinya, Mar-a-Lago, Palm Beach, Florida, Trump menyebut Kuba telah lama berada dalam kondisi gagal sebagai sebuah negara. Ia menilai situasi tersebut kini semakin memburuk setelah Kuba tidak lagi mendapatkan dukungan dari Venezuela.
“Kuba adalah negara yang gagal. Sudah lama demikian, tetapi sekarang mereka tidak lagi memiliki Venezuela untuk menopang mereka. Jadi kami sedang berbicara dengan orang-orang dari Kuba, orang-orang paling atas di Kuba, untuk melihat apa yang akan terjadi. Saya rasa kita akan mencapai kesepakatan dengan Kuba,” ujar Trump, seperti dikutip dari Channel News Asia (CNA).
Baca juga:AS Kerahkan 10 Kapal Perang, Trump Ancam Serang Iran Jika Negosiasi Gagal
Pada periode kedua pemerintahannya, Trump diketahui meningkatkan tekanan terhadap negara kepulauan berhaluan komunis yang terletak di selatan Florida tersebut sejak awal Januari. Langkah itu menyusul perubahan politik besar di Venezuela, yang sebelumnya menjadi sekutu dekat Havana sekaligus pemasok utama minyak bagi Kuba.
Pada pekan lalu, Trump menandatangani perintah eksekutif yang mengancam akan mengenakan tarif tambahan terhadap negara-negara yang menjual minyak ke Kuba. Sehari setelah kebijakan tersebut diumumkan, warga Kuba dilaporkan mulai mengantre panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar di Havana.
Sementara itu, Kuasa Usaha AS untuk Kuba sejak 2024, Mike Hammer, mengungkapkan bahwa saat kunjungannya ke Provinsi Trinidad di Kuba bagian tengah, ia mendapat teriakan dan hinaan dari sekelompok orang. Pernyataan itu disampaikan Hammer melalui sebuah video yang diunggah di platform X.
“Saya pikir mereka berasal dari kelompok politik tertentu, tetapi saya tahu mereka tidak mewakili rakyat Kuba secara umum,” kata Hammer, merujuk pada Partai Komunis Kuba.
Menanggapi insiden tersebut, Biro Urusan Belahan Barat Kementerian Luar Negeri AS menyatakan bahwa rezim Kuba yang mereka sebut tidak sah harus menghentikan tindakan represif berupa pengiriman individu untuk mengganggu aktivitas diplomatik Hammer dan staf Kedutaan Besar AS di Kuba.
“Para diplomat kami akan terus bertemu dengan rakyat Kuba meskipun rezim ini melakukan intimidasi yang tidak efektif,” tulis pernyataan tersebut.
Baca juga:Ketegangan Diplomatik Memanas, Iran Bantah Klaim Trump soal Negosiasi
Ancaman Trump dan Respons Internasional
Trump dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, yang memiliki latar belakang keluarga pengungsi Kuba, secara terbuka menyatakan keinginan untuk mendorong perubahan rezim di Havana. Setelah perubahan kepemimpinan di Venezuela, Trump bahkan memperingatkan pemerintah Kuba agar segera membuat kesepakatan atau menghadapi konsekuensi yang tidak dirinci.
Sebelumnya, Trump menuliskan pernyataan keras dengan menegaskan, “Tidak ada lagi minyak atau uang untuk Kuba: nol,” serta mengklaim bahwa negara tersebut berada di ambang kejatuhan.
Di sisi lain, pemerintah Kuba menuduh AS berupaya mencekik perekonomian negara itu. Tuduhan tersebut muncul di tengah kondisi dalam negeri Kuba yang semakin sulit, ditandai dengan pemadaman listrik harian dan antrean panjang bahan bakar.
China turut merespons kebijakan tekanan AS terhadap Kuba. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menyatakan bahwa langkah tersebut tidak manusiawi dan berpotensi merampas hak rakyat Kuba atas kelangsungan hidup dan pembangunan.
“China dengan tegas menentang praktik-praktik yang merugikan hak rakyat Kuba atas subsistensi dan pembangunan,” ujar Guo, dikutip dari Xinhua, Senin (2/2/2026).
Baca juga:Trump Bentuk Dewan Perdamaian Gaza, Sejumlah Negara Setuju, Lainnya Menolak
Guo menegaskan bahwa China mendukung Kuba dalam menjaga kedaulatan dan keamanannya, serta menolak segala bentuk campur tangan eksternal. Menurutnya, ancaman tarif terhadap negara-negara pemasok minyak Kuba berisiko memperburuk krisis ekonomi dan kemanusiaan di negara tersebut.
Meski demikian, Trump menyatakan dirinya tetap terbuka untuk melakukan negosiasi perdagangan dengan Kuba dan meyakini Havana pada akhirnya akan datang ke meja perundingan. (A02)









Jadilah yang pertama berkomentar di sini