Teheran, Sinata.id — Pemerintah Iran angkat suara menanggapi pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang mengklaim Teheran tengah berupaya membuka kembali jalur negosiasi dengan Washington. Klaim tersebut dibantah keras dan dinilai tidak mencerminkan sikap resmi Iran.
Bantahan itu disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang menegaskan bahwa tidak pernah ada permintaan dari Iran untuk memulai pembicaraan langsung dengan Amerika Serikat. Menurutnya, pernyataan Trump justru berpotensi menyesatkan opini publik internasional.
“Iran tidak pernah mengajukan permintaan negosiasi. Pernyataan semacam itu tidak sesuai dengan fakta yang ada,” ujar Araghchi dalam keterangan resmi, menanggapi klaim yang dilontarkan Trump, dikutip Rabu (28/1/2025).
Pernyataan saling berseberangan ini muncul di tengah hubungan yang kembali memanas antara Washington dan Teheran. Dalam beberapa kesempatan terakhir, Trump menyebut Iran menunjukkan sinyal ingin berdialog, bahkan menggambarkannya sebagai pihak yang membutuhkan kesepakatan. Narasi tersebut langsung ditepis oleh otoritas Iran.
Araghchi menegaskan, Iran tidak akan duduk di meja perundingan selama tekanan politik, ancaman militer, dan sanksi ekonomi masih dijadikan alat utama oleh Amerika Serikat. Ia menekankan bahwa prinsip dialog harus dilandasi rasa saling menghormati, bukan tekanan sepihak.
Ketegangan Diplomatik yang Terbuka
Bantahan terbuka dari Teheran ini memperlihatkan betapa renggangnya hubungan kedua negara. Meski komunikasi tidak langsung melalui mediator masih disebut ada, Iran menegaskan belum ada perubahan kebijakan yang mengarah pada normalisasi hubungan dengan Washington.
Sejumlah pengamat menilai pernyataan Trump lebih bersifat pesan politik domestik, sementara respons Iran menunjukkan sikap defensif sekaligus peringatan bahwa Teheran tidak ingin diposisikan sebagai pihak yang lemah di hadapan tekanan internasional.
Dampak Regional dan Global
Situasi ini kembali menempatkan hubungan AS–Iran sebagai salah satu titik panas geopolitik global. Ketidakselarasan pernyataan kedua pihak dikhawatirkan memperpanjang kebuntuan diplomasi, khususnya terkait isu nuklir dan stabilitas kawasan Timur Tengah.
Iran sendiri menegaskan tetap membuka ruang dialog dengan negara lain, selama dilakukan atas dasar kesetaraan dan tanpa ancaman. Namun terhadap Amerika Serikat, Teheran menilai perubahan sikap nyata masih menjadi syarat utama sebelum pembicaraan apa pun bisa dimulai. [a46]









Jadilah yang pertama berkomentar di sini