Info Market CPO
🗓 Update: Senin, 4 Mei 2026 |15:05 WIB |Volume: 0.5K • 0.3K • 0.2K DMI • FOB TDUKU • LOCO PARINDU • LOCO KEMBAYAN • LOCO NGABANG • LOCO LUWU
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15400 15297 (PAA) 15300 (AGM) 15415 EUP ACC
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15400 15297 (PAA) 15300 (AGM) 15145 EUP ACC
N6 N4 (N6)
Vol: 0.5K · FOB TDUKU
15198 (PRISCOLIN) 15097 (PAA) 15100 (AGM) 15215 PRISCOLIN ACC
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14875 14589 (MNA) 14700 (PBI) 15065 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.3K · LOCO KEMBAYAN
14850 14589 (MNA) 14600 (PBI) 14965 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO NGABANG
15035 14589 (MNA) 14700 (PBI) 15065 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 0.5K · LOCO LUWU
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP mendominasi pada transaksi DMI
  • PRISCOLIN unggul pada FOB TDUKU
  • Segmen LOCO masih cenderung melemah dan belum merata
👥Sumber: Internal Market CPO
Advertisement
Model
Dunia

Pemilu Myanmar Berubah Jadi Medan Perang, 170 Warga Sipil Tewas

pemilu myanmar berubah jadi medan perang, 170 warga sipil tewas
Pemilu Myanmar berubah menjadi tragedi berdarah. Sedikitnya 170 warga sipil tewas akibat serangan udara militer. PBB sebut angka korban bisa lebih besar. (Ist)

Jenewa, Sinata.id — Alih-alih menjadi pesta demokrasi, pemilu di Myanmar justru berubah menjadi episode paling kelam dalam sejarah modern negara itu. Selama proses pencoblosan yang digelar bertahap, langit Myanmar dipenuhi suara jet tempur, dan di darat, ratusan keluarga kehilangan orang tercinta.

Menurut laporan terbaru dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, sedikitnya 170 warga sipil tewas akibat serangan udara militer yang berlangsung bersamaan dengan tahapan pemilu. Data tersebut mencatat bahwa serangan tidak hanya terjadi di wilayah konflik terbuka, tetapi juga menyasar desa-desa yang sebelumnya relatif aman.

Advertisement

Serangan berlangsung sejak akhir Desember hingga akhir Januari. Dalam rentang waktu itu, ratusan bom dijatuhkan, menghantam permukiman, pasar, bahkan area dekat tempat pemungutan suara.

Baca Juga  Israel Hentikan Sekolah dan Larang Kerumunan Usai Serangan Iran

Kepala pemantauan Myanmar dari Kantor HAM PBB, James Rodehaver, mengungkapkan bahwa angka korban yang tercatat kemungkinan hanyalah sebagian kecil dari kenyataan di lapangan.

“Banyak wilayah terisolasi total. Warga takut berbicara, jaringan komunikasi terputus. Jumlah korban sebenarnya bisa jauh lebih besar,” ujar Rodehaver dalam keterangannya, dikutip Jumat (30/1/2026).

PBB mencatat lebih dari 400 serangan udara selama periode pemilu. Mayoritas korban adalah warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak yang tidak terlibat dalam konflik bersenjata.

Pemungutan suara digelar sebagai upaya junta militer untuk mengklaim legitimasi politik pasca-kudeta 2021. Namun proses ini tidak berlangsung secara nasional. Banyak daerah tidak ikut memilih karena berada di zona pertempuran atau dikuasai kelompok oposisi.

Baca Juga  Ribuan Pekerja Lari dari Neraka Industri Scam Myanmar

Akibatnya, jutaan warga kehilangan hak suara. Di sejumlah wilayah yang tetap menggelar pemilu, masyarakat mengaku datang ke TPS bukan karena pilihan politik, tetapi karena tekanan dan rasa takut.

Kepala HAM PBB, Volker Türk, menilai pemilu tersebut justru memperdalam krisis.

“Proses ini dikendalikan militer dan memperparah kekerasan, ketakutan, serta perpecahan sosial,” kata Türk.

Bersamaan dengan operasi udara, aparat juga melakukan penangkapan massal terhadap warga yang menolak pemilu. Ribuan orang ditahan, sebagian hanya karena mengunggah kritik di media sosial atau menyerukan boikot.

Laporan PBB menyebut, sejumlah tahanan dijatuhi hukuman berat dalam sidang tertutup. Banyak keluarga tidak mengetahui keberadaan kerabat mereka. [a46]

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini