Info Market CPO
🗓 Update: Senin, 4 Mei 2026 |15:05 WIB |Volume: 0.5K • 0.3K • 0.2K DMI • FOB TDUKU • LOCO PARINDU • LOCO KEMBAYAN • LOCO NGABANG • LOCO LUWU
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15400 15297 (PAA) 15300 (AGM) 15415 EUP ACC
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15400 15297 (PAA) 15300 (AGM) 15145 EUP ACC
N6 N4 (N6)
Vol: 0.5K · FOB TDUKU
15198 (PRISCOLIN) 15097 (PAA) 15100 (AGM) 15215 PRISCOLIN ACC
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14875 14589 (MNA) 14700 (PBI) 15065 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.3K · LOCO KEMBAYAN
14850 14589 (MNA) 14600 (PBI) 14965 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO NGABANG
15035 14589 (MNA) 14700 (PBI) 15065 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 0.5K · LOCO LUWU
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP mendominasi pada transaksi DMI
  • PRISCOLIN unggul pada FOB TDUKU
  • Segmen LOCO masih cenderung melemah dan belum merata
👥Sumber: Internal Market CPO
Advertisement
Model
News

Konten Shandy Logay Meledak di Media Sosial, Netizen Geram: “Ini Bukan Hiburan!”

konten shandy logay meledak di media sosial, netizen geram: “ini bukan hiburan!”
Konten viral kreator Shandy Logay yang mengajak pelajar sekolah untuk “pacaran” memicu kecaman luas di media sosial. Publik menilai unggahan tersebut melampaui batas kepantasan dan memunculkan perdebatan serius soal child grooming serta etika konten digital. (Ist)

Jakarta, Sinata.id — Jagat media sosial kembali bergejolak setelah sebuah video yang menampilkan kreator konten Shandy Logay mengajak pelajar sekolah untuk “pacaran” demi konten viral menuai kecaman luas. Unggahan tersebut dinilai melampaui batas kepantasan dan memicu tudingan mengarah pada praktik child grooming, hingga memantik kemarahan publik dan tuntutan agar aparat bertindak tegas.

Video itu menyebar cepat lintas platform. Potongan adegan demi adegan dipelintir, dikomentari, dan diunggah ulang oleh ribuan akun. Dalam hitungan jam, kolom komentar dipenuhi kecaman. Sebagian warganet bahkan secara terbuka menuntut aparat penegak hukum turun tangan.

Advertisement

“Ini sudah kebablasan, jangan dibungkus pakai dalih konten,” tulis seorang pengguna X yang unggahannya ikut viral dan dibagikan ribuan kali. Nada serupa membanjiri TikTok dan Instagram, menjadikan nama Shandy Logay masuk dalam daftar pencarian terpopuler.

Baca Juga  Asal-Usul Manusia Modern Diklaim Berada di Afrika Selatan, Namun Dipertanyakan Para Ahli

Shandy Logay selama ini dikenal sebagai kreator dengan gaya santai dan konten sosial eksperimental. Namun unggahan terbaru tersebut dinilai berbeda dari konten-konten sebelumnya. Interaksi orang dewasa dengan anak sekolah, meski diklaim sebagai bagian dari skenario, dianggap melampaui batas kepantasan.

Istilah child grooming pun langsung mencuat. Banyak warganet menilai konten semacam ini berbahaya karena berpotensi menormalisasi pendekatan orang dewasa kepada anak di bawah umur, sekaligus memberi contoh yang keliru di ruang digital.

“Masalahnya bukan niat, tapi dampaknya,” tulis warganet lain. “Anak-anak bisa mengira hal seperti ini wajar.”

Di tengah gelombang kecaman, Shandy Logay akhirnya angkat bicara. Lewat pernyataan terbuka di media sosial, ia menyampaikan permintaan maaf dan mengakui bahwa konten tersebut menimbulkan ketidaknyamanan.

Baca Juga  Fakta Video CCTV Inara Rusli Viral, Netizen Mengelus Dada: “Dulu Korban Pelakor, Sekarang?”

Ia menjelaskan bahwa video itu dibuat sebagai bagian dari kerja sama promosi dengan sebuah merek, serta mengklaim bahwa seluruh pihak yang terlibat telah menyetujui konsep sejak awal. Namun klarifikasi tersebut justru menuai respons beragam. Sebagian publik menilai permintaan maaf itu terlambat dan tidak menyentuh akar persoalan.

“Kalau sudah viral begini baru minta maaf, ya percuma,” tulis komentar yang kembali ramai disukai ribuan pengguna.

Shandy juga menyampaikan permohonan maaf secara khusus kepada salah satu pelajar yang disebut merasa tidak nyaman setelah video tersebut diunggah. Meski begitu, tekanan publik tak serta-merta mereda.

Kasus ini berkembang melampaui sosok Shandy Logay semata. Publik kini menyoroti fenomena kreator yang mengejar viralitas tanpa mempertimbangkan etika dan dampak jangka panjang. Banyak pihak menyebut peristiwa ini sebagai “alarm keras” bagi industri konten digital di Indonesia. [a46]

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini