Oleh: Mis. Ev. Daniel Pardede, M.H
Ketaatan kepada perintah Tuhan merupakan fondasi utama dalam kehidupan orang percaya. Namun, Alkitab dengan tegas mengajarkan bahwa keselamatan manusia tidak pernah diperoleh semata-mata karena keberhasilan menjalankan hukum Taurat atau seluruh perintah Tuhan secara sempurna.
Mazmur 19:9 menyatakan bahwa titah Tuhan itu tepat dan menyukakan hati, serta perintah-Nya murni dan memberi terang bagi kehidupan manusia. Firman ini menegaskan bahwa perintah Tuhan adalah standar ilahi yang luhur, sekaligus menyadarkan manusia akan keterbatasannya dalam memenuhi standar tersebut secara utuh.
Rasul Paulus dalam Roma 3:20 menjelaskan bahwa tidak seorang pun dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat. Hukum justru menyingkapkan dosa serta ketidakmampuan manusia untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Atas dasar inilah Allah menganugerahkan jalan keselamatan melalui iman, bukan melalui perbuatan hukum semata.
Keselamatan itu diberikan melalui Yesus Kristus, Anak Allah yang tunggal. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Allah menganugerahkan iman, pengharapan, dan kasih kepada setiap orang yang percaya. Roma 10:9 menegaskan bahwa pengakuan iman kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan serta kepercayaan akan kebangkitan-Nya merupakan dasar keselamatan yang sejati.
Yesus sendiri mengecam sikap religius yang hanya berfokus pada formalitas ibadah. Dalam Matius 23:23, Yesus menegur orang-orang Farisi yang taat memberi persembahan dan persepuluhan, tetapi mengabaikan hal-hal yang lebih utama, yaitu keadilan, belas kasihan, dan kesetiaan. Teguran ini menegaskan bahwa ketaatan sejati tidak berhenti pada ritual, melainkan harus terwujud dalam kasih yang nyata kepada sesama.
Lebih jauh, Yakobus 2:10 mengingatkan bahwa pelanggaran terhadap satu perintah saja membuat seseorang bersalah terhadap seluruh hukum. Firman ini bukan untuk melemahkan iman, melainkan untuk menyadarkan bahwa ketaatan tidak boleh bersifat selektif, dilakukan menurut kehendak pribadi, tetapi harus dilandasi kerendahan hati dan ketergantungan penuh kepada kasih karunia Allah.
Dengan demikian, ketaatan kepada Tuhan bukanlah alat untuk membanggakan diri, melainkan respons iman yang diwujudkan melalui kasih dan keadilan dalam kehidupan sehari-hari. Sebab iman yang hidup selalu memuliakan Tuhan dan menghadirkan damai bagi sesama. (A27)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini