Sinata.id – Pemerintah mulai membaca sinyal meredanya gejolak harga cabai yang sempat memicu keresahan publik. Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyatakan tren harga komoditas cabai secara nasional kini bergerak lebih terkendali, meski tekanan cuaca masih membayangi pasokan di sejumlah daerah.
Kepala Bapanas yang juga Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyampaikan optimisme bahwa harga cabai berada di jalur pemulihan. Menurutnya, fluktuasi kecil masih mungkin terjadi, terutama di tengah musim hujan dan dampak bencana alam, namun secara umum pergerakan harga dinilai mulai stabil.
Pemerintah, kata Amran, memperkuat kendali dari sisi distribusi. Salah satu langkah tak biasa yang ditempuh adalah mengangkut hasil panen cabai dari daerah sentra produksi—termasuk wilayah terdampak bencana di Aceh—langsung ke Jakarta dengan memanfaatkan armada udara yang sebelumnya mengangkut bantuan logistik.
Baca Juga: Himbara Gelontorkan Rp100 Triliun, Antisipasi Lonjakan Transaksi Nataru
Langkah ini disebut sebagai bentuk perlindungan terhadap petani agar hasil panen tidak terbuang dan tetap terserap pasar. Pemerintah memastikan jerih payah petani mendapat akses distribusi yang adil, sekaligus menjaga pasokan di daerah konsumen utama.
Dari sisi produksi, Bapanas mencatat ketersediaan cabai dalam negeri berada pada level aman. Berdasarkan proyeksi neraca pangan per Desember 2025, produksi cabai besar diperkirakan melonjak signifikan dibandingkan bulan sebelumnya, sementara produksi cabai rawit juga dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi nasional bulanan.
Dengan kebutuhan konsumsi cabai besar dan cabai rawit merah nasional yang berada di kisaran puluhan ribu ton per bulan, produksi domestik dinilai masih mampu menutup permintaan. Bahkan, stok hingga akhir 2025 diproyeksikan tetap tersedia dalam jumlah yang memadai.
Meski demikian, tekanan harga belum sepenuhnya hilang. Data Panel Harga Bapanas menunjukkan harga cabai rawit merah secara nasional masih berada sedikit di atas harga acuan penjualan (HAP), meski pergerakannya mulai melambat.
Sebelumnya, lonjakan harga cabai rawit sempat mencuri perhatian publik. Musim penghujan menyebabkan frekuensi panen petani menurun, sehingga pasokan terganggu dan harga melesat tajam di berbagai daerah.
Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Melemah, Pasar Waspadai Area Rp16.800 per Dolar AS
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat harga cabai rawit pada pekan ketiga Desember 2025 melonjak lebih dari 50 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Sejumlah wilayah di Papua bahkan mencatat harga ekstrem, dengan cabai rawit menembus ratusan ribu rupiah per kilogram.
Kenaikan harga tidak hanya terjadi secara sporadis. BPS mencatat mayoritas kabupaten dan kota di Indonesia mengalami lonjakan Indeks Perubahan Harga (IPH) cabai rawit sepanjang Desember, dengan tren wilayah terdampak terus bertambah dari pekan ke pekan.
BPS pun mengingatkan potensi tekanan inflasi menjelang Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Lonjakan harga cabai rawit menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai, meski pemerintah optimistis stabilisasi pasokan dan distribusi dapat meredam gejolak lebih lanjut.
Dengan kombinasi intervensi distribusi, proyeksi produksi yang membaik, dan pengawasan ketat harga, pemerintah berharap cabai tak lagi menjadi “biang panas” inflasi di penghujung tahun. [a46]









Jadilah yang pertama berkomentar di sini