Info Market CPO
🗓 Update: Selasa, 5 Mei 2026 |14:54 WIB |Volume: 0.5K • 0.3K • 0.2K DMI • LOCO NGABANG • LOCO PARINDU • LOCO KEMBAYAN • LOCO LUWU
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15625 15418 15400 - EUP ACC
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15625 15418 15400 - EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO NGABANG
15260 14693 14800 15275 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
15100 14693 14800 15275 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.3K · LOCO KEMBAYAN
15075 14693 14700 15175 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 0.5K · LOCO LUWU
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP mendominasi pada transaksi DMI
  • Segmen LOCO masih dalam tekanan harga
  • Belum ada transaksi pada beberapa titik lokasi
👥Sumber: Internal Market CPO
Advertisement
Model
Nasional

Nurul Arifin Dorong 12 Agenda Strategis Perempuan Jadi Aksi Nyata Parlemen

anggota dpr ri nurul arifin menekankan bahwa 12 isu strategis perempuan hasil musyawarah ibu bangsa 2025 tidak boleh berhenti sebagai wacana.
Nurul Arifin saat mengikuti Musyawarah Ibu Bangsa di Gedung Nusantara V DPR RI

Jakarta, Sinata.id — Anggota DPR RI Nurul Arifin menekankan bahwa 12 isu strategis perempuan hasil Musyawarah Ibu Bangsa 2025 tidak boleh berhenti sebagai wacana.

Menurutnya, seluruh agenda tersebut harus diwujudkan dalam kebijakan konkret serta kerja nyata di parlemen sebagai pijakan menuju Indonesia yang berkeadilan gender pada 2045.

Advertisement

Hal itu disampaikan Nurul Arifin usai menghadiri Musyawarah Ibu Bangsa 2025 bertema Pulang ke Semangat 1928: Suara Perempuan untuk Indonesia Berkeadilan 2045, yang digelar Kaukus Perempuan Parlemen DPR RI di Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (22/12/2025).

“Esensi dari perjuangan ini adalah memastikan perempuan tidak lagi dipersempit perannya. Perempuan harus didorong untuk terus berkarya sesuai kemampuan dan pilihannya, serta memiliki kendali penuh atas diri, gagasan, dan potensinya,” ujar Nurul.

Baca Juga  Menhaj Gus Irfan Cek Dapur Haji di Madinah, Pastikan Rasa Nusantara dan Higienitas

Ia menjelaskan bahwa 12 isu strategis tersebut disusun sebagai agenda lintas sektor yang mencerminkan persoalan riil yang masih dihadapi perempuan Indonesia. Isu-isu itu mencakup kekerasan dan eksploitasi terhadap perempuan, ketimpangan ekonomi dan ketenagakerjaan, kesehatan perempuan, hingga keterlibatan perempuan dalam politik, kepemimpinan, dan representasi publik.

Selain itu, agenda strategis juga menyoroti persoalan lingkungan dan krisis iklim, tantangan di ruang digital termasuk kecerdasan artifisial dan budaya pop, serta isu identitas, disabilitas, dan interseksionalitas.

Aspek lain yang turut menjadi perhatian meliputi budaya, sejarah, dan ingatan kolektif; reformasi hukum, peradilan, dan kejaksaan; pembenahan sektor kemanusiaan yang melibatkan TNI dan Polri; reformasi kampus dan pengembangan kajian gender; serta reformasi birokrasi dan pelayanan publik yang berpihak pada keadilan gender.

Baca Juga  Tekan Ancaman PHK, Netty Aher Tekankan Pentingnya Kolaborasi Pemerintah

Menurut politisi Fraksi Partai Golkar itu, sebagian besar isu tersebut sebenarnya telah memiliki dasar hukum. Namun, persoalan utama justru terletak pada lemahnya pelaksanaan di lapangan.

Karena itu, ia menilai komitmen parlemen sangat dibutuhkan agar regulasi yang ada benar-benar memberikan dampak nyata bagi kehidupan perempuan.

“Sebagian besar sudah tertampung dalam undang-undang, meski belum sepenuhnya lengkap. Tantangannya bukan hanya soal aturan, tetapi juga soal gagasan dan kemauan. Ini yang akan terus kami dorong, termasuk dalam rangka menyongsong satu abad pergerakan perempuan,” jelasnya.

Dalam ranah legislasi, Nurul juga menyoroti pentingnya pembahasan sejumlah Rancangan Undang-Undang (RUU), seperti RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (PPRT) dan RUU Pemilu.

Baca Juga  Hilal Belum Penuhi Kriteria MABIMS, Idulfitri 2026 Diprediksi 21 Maret

Khusus RUU Pemilu, ia menegaskan bahwa sistem rekrutmen politik harus menjamin keterlibatan perempuan secara adil dan setara, tanpa diskriminasi dalam bentuk apa pun.

“Tugas kita adalah terus mengawal, terutama dalam RUU Pemilu. Setiap proses rekrutmen harus membuka ruang bagi perempuan, dan pada saat yang sama memastikan semua anggota diperlakukan setara,” tandas Anggota Komisi I DPR RI tersebut.

Melalui momentum Musyawarah Ibu Bangsa 2025 yang bertepatan dengan peringatan Hari Ibu, Nurul kembali menegaskan bahwa perjuangan atas 12 isu strategis perempuan bukanlah upaya membatasi peran perempuan di ranah domestik.

Sebaliknya, agenda tersebut diarahkan agar perempuan memiliki kebebasan menentukan pilihan hidupnya sendiri dan berkontribusi aktif dalam pembangunan bangsa. (*)

Sumber: Parlementaria

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini