Info Market CPO
🗓 Update: Senin, 11 Mei 2026 |15:20 WIB |Volume: 0.5K • 0.2K • 2.6K DMI • LOCO NGABANG • LOCO KEMBAYAN • LOCO PARINDU • FOB PALOPO
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15325 15217 (PAA) 15203 - EUP ACC
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15325 15217 (PAA) 15203 - EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO NGABANG
14975 14774 (MNA) 14550 (PBI) - EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO KEMBAYAN
14875 14624 (MNA) 14450 (PBI) - EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.5K · LOCO PARINDU
14885 14699 (MNA) 14550 (PBI) 14975 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 2.6K · FOB PALOPO
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP mendominasi pada transaksi DMI dan segmen LOCO
  • Persaingan harga masih cukup ketat antar bidder
  • Masih terdapat lokasi tanpa penawaran
👥Sumber: Internal Market CPO
Model
Nasional

Inovasi UGM: Menyulap Sampah Kayu Banjir Menjadi Hunian Layak untuk Pengungsi

inovasi ugm: menyulap sampah kayu banjir menjadi hunian layak untuk pengungsi
Kayu gelondongan bekas banjir di Tapanuli Tengah.

Jakarta, Sinata.id – ​Tragedi banjir bandang dan longsor yang menghantam wilayah Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh menyisakan duka mendalam serta kerusakan infrastruktur yang masif.

Di tengah situasi darurat ini, Universitas Gadjah Mada (UGM) hadir dengan solusi cerdas dan manusiawi: membangun hunian sementara (Huntara) menggunakan kayu-kayu sisa hanyutan banjir.

Advertisement

​Bergerak Atas Dasar Kemanusiaan
​Melalui grup penelitian bernama “Tangguh”, tim ahli dari UGM yang dipimpin oleh Prof. Ir. Ikaputra bersama para peneliti lintas disiplin, mencoba menjawab keresahan warga.

Berdasarkan data BNPB per 18 Desember, sebanyak 147 ribu rumah warga rusak berat.
​Salah satu anggota tim, Ardhya Nareswari, mengungkapkan bahwa ide ini lahir dari keprihatinan melihat warga yang masih bertahan di tenda terpal.

Baca Juga  Ijeck Dicopot dari Ketua DPD Golkar Sumut, Bahlil Diminta Bertobat

Mengingat pembangunan rumah permanen oleh pemerintah membutuhkan waktu bertahun-tahun, tinggal di tenda dianggap kurang layak bagi martabat manusia.

​”Tinggal di tenda dalam jangka waktu lama itu kurang manusiawi. Kami ingin memberikan tempat tinggal yang lebih layak sebelum hunian tetap selesai dibangun,” ujar Nares.

​Konsep “Tempel, Gapit, Baut”: Mudah dan Cepat
​Hal yang paling unik dari proyek ini adalah pemanfaatan material sisa alam. Kayu-kayu yang hanyut terbawa banjir bandang akan diolah kembali menjadi papan berukuran 3×12 cm.

​Ir. Ashar Saputra, anggota tim lainnya, menjelaskan keunggulan sistem konstruksi ini:

  1. ​Alat Sederhana: Hanya memerlukan bor dan baut.
  2. ​Metode Praktis: Menggunakan prinsip “tempel, gapit, baut” sehingga orang awam pun bisa membangunnya sendiri.
  3. ​Pemberdayaan: Masyarakat dilibatkan langsung agar memiliki rasa kepemilikan terhadap tempat tinggal mereka.
  4. ​Daya Tahan: Meski bersifat sementara, hunian ini dirancang kokoh untuk bertahan selama 3 hingga 5 tahun.
Baca Juga  Menag Nasaruddin Umar Ajak Rayakan Akhir Tahun dengan Empati

​Adaptasi Lokal dan Rekam Jejak Sukses
​Konsep hunian berukuran 36 meter persegi ini sebenarnya bukan hal baru bagi UGM. Skema serupa telah sukses diterapkan dalam pemulihan pascabencana di Yogyakarta, Palu, dan Lombok.

​Namun, tim “Tangguh” menekankan pentingnya adaptasi material. Jika di Lombok mereka menggunakan baja, untuk wilayah Sumatera mereka memprioritaskan material lokal yang tersedia di lokasi bencana demi efisiensi logistik dan kecepatan pembangunan. []

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini