Info Market CPO
🗓 Update: Kamis, 7 Mei 2026 |18:20 WIB |Volume: 0.5K • 0.2K • 1K DMI • LOCO PARINDU • LOCO LUWU
HARGA CPO (WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15222 15200 (IMT) 15220 (AGM) 15350 - WD
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15222 15200 (IMT) 15220 (AGM) 15350 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14782 14455 (MNA) 14600 (PBI) 15000 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
15100 14693 14800 15275 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 1K · LOCO LUWU
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • Harga relatif stabil pada transaksi DMI
  • Selisih harga antar bidder sangat tipis
  • Masih terdapat lokasi tanpa penawaran
👥Sumber: Internal Market CPO
Dunia

5,7 Juta Data Pelanggan Qantas Airways Disebar di Internet

qantas airways, ikon langit australia, kini kelimpungan menghadapi kebocoran data pelanggannya di internet.
Qantas Airways, ikon langit Australia, kini kelimpungan menghadapi kebocoran data pelanggannya di internet. (Ist)

Sinata.idQantas Airways, maskapai kebanggaan Australia itu kini diterpa badai setelah jutaan data pelanggan mereka beredar di dunia maya, buntut dari serangan siber yang terjadi pada Juli lalu.

Nama besar Qantas Airways Ltd. tengah jadi bahan perbincangan panas. Maskapai nasional Australia itu mengonfirmasi bahwa data pelanggan mereka telah bocor dan kini dipublikasikan secara online.

Advertisement

Dalam pernyataan resminya akhir pekan lalu, Qantas mengungkapkan bahwa sebanyak 5,7 juta catatan pelanggan diambil secara ilegal melalui platform pihak ketiga. Meski pihak perusahaan menegaskan sebagian besar informasi yang bocor hanya mencakup nama, alamat email, dan detail program frequent flyer, dampaknya tetap mengkhawatirkan publik.

Baca Juga  Replika Patung Liberty Setinggi 24 Meter Ambruk Diterjang Badai di Brasil

Baca Juga: Kris Dayanti Siap Berlaga di Arena Wushu Internasional

Namun, bukan itu saja. Sebagian kecil data sensitif lain seperti alamat rumah, tanggal lahir, nomor telepon, jenis kelamin, dan bahkan preferensi makanan penumpang juga ikut terekspos. Meski terlihat sepele, data ini bisa menjadi “harta karun” bagi pelaku kejahatan siber untuk aksi penipuan atau rekayasa sosial di dunia maya.

Qantas buru-buru menenangkan para pelanggan. Mereka menegaskan bahwa data penting seperti kartu kredit, paspor, maupun detail login akun tidak tersentuh oleh peretas. Artinya, sistem utama mereka masih aman, dan akun frequent flyer pelanggan tidak mengalami gangguan langsung.

Tak tinggal diam, pihak Qantas langsung mengajukan permintaan perintah pengadilan ke Mahkamah Agung New South Wales, untuk menghentikan penyebaran dan akses terhadap data curian itu.

Baca Juga  Krisis Energi Memanas, Negara-Negara Asia Berebut Kargo Bahan Bakar di Pasar Global

Selain itu, perusahaan juga memperketat pengawasan keamanan internal dan meningkatkan pelatihan keamanan siber bagi karyawan, sebagai upaya mencegah kebocoran serupa di masa depan.

Dalam siaran resminya, Qantas menegaskan mereka kini bekerja sama dengan Australian Cyber Security Centre dan Kepolisian Federal Australia untuk mengusut sumber dan jalur distribusi kebocoran ini.

Bahkan, pelanggan yang terdampak langsung ditawari dukungan perlindungan identitas, agar tidak menjadi korban kejahatan digital berikutnya.

Pengamat keamanan siber menilai, serangan terhadap Qantas memperlihatkan betapa rentannya ekosistem data pribadi di sektor transportasi, yang kini makin terkoneksi dengan sistem digital pihak ketiga.

“Serangan terhadap maskapai bukan lagi hal baru. Tapi yang mengkhawatirkan adalah bagaimana data pelanggan bisa berpindah tangan dengan mudah,” ujar salah satu pakar keamanan digital dari Sydney Cyber Institute. [zainal/a46]

Baca Juga  Maskapai Dinilai Tertutup, UU Penerbangan Digugat ke MK

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini